Container Icon

Husni Jamaludin dalam karyanya "SAAT SAAT TERAKHIR MUHAMMAD RASULULLAH"

demam itu demam yang pertama demam yang terakhir
bagi rasul terakhir
jam itu adalah jam-jam penghabisan
bagi Utusan Penghabisan
dalam demam yang mencengkram
betapa sabar kau terbaring di selembar tikar
dalam jam-jam yang mencekam
betapa dalam lautan pasrahmu

ada kulihat

matamu berisyarat

adakah gerangan

yang ingin kau pesankan
dalam jam-jam penghabisan
wahai Nabi Pilihan

maka kuhampirkan telingaku yang kanan
dimulutmu yang suci

maka kudengar ucapmu pelan:
dibawah tikar
ada  sembilan dinar
tolong....tolong sedekahkan
sesegera mungkin
kepada fakir miskin

mengapa yang sembilan dinar
mengapa itu benar
mengapa..
mengapa..itu yang membuatmu gelisah
ya Rasulullah

sebab kemana nanti
kusembunyikan wajahku
dihadirat Ilahi
bila aku menghadap dan Dia tahu
aku meninggalkan bumi
dengan memiliki
duit
biar sedikit
biar cuma sembilan dinar

ke bumi aku diutus
memberikan arah ke jalan yang lurus
Tugasku...
tugasku tak hanya menyampaikan pesan
tugasku adalah juga sebagai teladan
bagi segala orang yang mencintai Tuhan
lebih dari segala dinar
lebih dari segala yang lain
miskin aku datang
biarlah miskin aku pulang
bersih aku lahir
biarlah bersih hingga detik terakhir

sembilan dinar
pelan-pelan kuambil dari bawah tikar
bergegas aku keluar
dari kamarmu yang sempit
kamarmu yang amat sederhana
bergegas aku melangkah ke lorong-lorong sempit
diatas jalan-jalan pasir tanah Madinah
mensedekahkan
dinar yang sembilan
kepada orang-orang
yang sangat kau sayang
orang-orang miskin seperti kau
orang-orang yatim seperti kau


dan demam itu demam yang pertama demam yang terakhir
bagi Rasul terakhir
dan jam itu adalah detik penghabisan
bagi Utusan Penghabisan

Muhammad

kau tak di situ lagi di tubuh itu
tinggal senyum di bibirmu
tinggal teduh di wajahmu
Rasulullah
miskin kau datang miskin kau pulang
bersih kau lahir bersih hingga detik terakhir
*****

Moga bisa mengingatkan kita kembali dan memberikan perenungan untuk kita

Kepasrahan



Malam yang kelam, gelap, pekat
Layaknya diriku yang penuh kehinaan, kemungkaran, kemunafikan, dan kealpaan yang selalu berulang
Mewarnai rona hidup dan kehidupanku
Tuhan dengan penuh kepasrahan
Tenggelamkan hamba dalam samudra ampunanMu
Agar hidup dan mati hamba ada dalam dekapanMu

******

Ku bersujud di paruh malam
Mengharapkan setetes kasih
DariMu sgala kuasa Robbi
Diri ini mendamba cintaMu

Tak kuasa hamba menghiba
Di hadapanMu maha agung
AmpunkanLah segala dosa
Hamba memohon mengharap RidhoMu
********

Alloh... MaafkanLah segala alfaku
Tiada daya hamba menghapuskan
Dari sgala khilaf dan dalamnya dosa
Alloh... Hanya Engkau yang Maha pengasih
Tuk lalui dari setiap cobaan
Menghapuskan dari deraian air mata

Ku pasrahkan hidupku
Ku pasrahkan matiku
Hanya untukMu ya Robbi
******

Dosa-dosa yang bergelimangan
Kenistaan yang selalu mewarnai
Dan menghiasi tangan dan tubuh hamba
Alloh...
HapuskanLah walaupun hanya setetes air mata
{Starfive}

Perangkap Monyet

Aiii....kok ngomongin masalah monyet siy.....
Itukan  asal  muasal kita * (huss....ngaco kamu)*
“beneran  lho,, masak kamu nggak tahu siy teori evolusi atawa darwinisme?, nggak perna ngerasaain  jadi anak sekolahan ya?? Wah...jangan2 pas pelajaran sejarah kamu tidur ya?” * (tambah ngaco niy..)*

Aku tak hendak membahas teori darwin ini kok,, jelas2 itu ilmu pengetahuan yang menyesatkan,,PENIPUAN...
Yang belum percaya,, baca ya ini :
AlQur’an surah 21 (Al-Anbiya) ayat 30 , Selanjutnya ayat Allah SWT pada surah 30 (Ar-Rum) ayat 20, Perhatikan pula surah 22 (Al-Hajj) ayat 5
******
Itu hanya prolog sebelum berlanjut ke goresan selanjutnya :)
Yuk!! Masih mau ikut.....^-^ * tapi awas lho,,,jaga jarak.....jangan deket-deket apalagi nempel *( khusus buat cowok niy,, cos aku kan cewek,, haram tahu :D, bukan mukhrim.....;) )*
***
Kembali ke judul...*Perangkap Monyet*
Dari majalah yang kubaca, Konon ceritanya  di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Digunakan perangkap, Sistem ini memungkinkan  untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan  hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.
Jadi begini sistem kerjanya, Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan  menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Nah loh,,,,
 kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak-bahak  saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples.
Tapi, sadar nggak siy?????...
mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. *(pake nggak ngerasa lagi, capee dehh) * .Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang.
Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, seperti memikul bumi dan seisinya, seperti  tertimbun beribu-ribu batu, hingga meremukkan sendi-sendi, mencucurkan darah-darah, * (xixixxi,, hiperbola bangetss..., heheh maksdnya menggambarkan, betapa beratttt banget tuh beban yang dialami)*
kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan yang kita alami,

Sebenarnya sederhana bukan??
Sesederhana monyet melepaskan diri dari perangkap dengan hanya rela melepaskan kacang,, membuka genggaman tangannya...,tapi mungkin sang monyet tak berpikir sampai kesana.

Yuk!!! Yang pada punya masalah * (setiap orang mah punya masalah,, kayak nggak tahu aja kamu, heheeh :D)*
Nggak mau jadi kayak monyet kan, yang terperangkap? heheh^-^
*****

NB : Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah???