Container Icon
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Mensyukuri Kehamilan

 Setiap pasangan suami istri tentu mendamba kehadiran anak dalam hidup mereka. Tapi kehamilan bukan peristiwa yang bisa diatur sesuai keinginan manusia. Tidak sedikit pasangan suami istri yang sama-sama muda, sehat, siap menanti kehadiran anak dan aktif secara seksual tapi nyatanya sang istri tak kunjung dianugerahi kehamilan. ada pula pasangan suami istri yang hampir setiap tahun, sang istri hamil, hingga ada istilah "susun paku".


  Kehamilan, betapapun bisa diupayakan, dengan program bayi tabung misalnya, tidak pernah memiliki jaminan keberhasilan kecuali semata-mata atas kehendak Alloh saja.
Kehendak Alloh itulah satu-satunya penentu sehingga ketika ibrahim as dan zakaria as memasrahkan diri mereka sepenuh keikhlasan kepada Robbnya untuk memperoleh keturunan.




    Ketika hamil, kita akan merasakan Lemah yang bertambah Lemah.
Kehamilan juga bukan peristiwa sederhana dan mudah dijalani. Al-qur`an sendiri menyatakan bahwa seorang ibu hamil adalah sesosok manusia yang tengah menjalani kehidupan yang lemah yang bertambah-tambah.
Lemah yang pertama,
hamilnya saja secara fisik sudah berat karena ada janin yang bertambah besar, ditambah deretan keluhan kehamilan pusing, mual, muntah, nyeri punggung, pinggang, sulit tidur, sesak nafas, tubuh melebar hingga sulit bergerak, kaki bengkak hingga sulit berjalan, sensitif terhadap rasa, bau dan cahaya serta masih banyak lagi (bukan karena "bumil" manjaloh say jadi banyak ngeluh ;) )


Lemah yang kedua,
secara psikologis, ibu menjadi punya tanggung jawab lebih berat, yaitu terhadap janin yang dikandungnya.
tanggung jawab menyehatkan dengan makanan, dengan pemeriksaan, dengan olahraga, juga tanggungjawab mendidik si bayi meski masih didalam kandungan,
padahal...
kondisi emosi pada kebanyakan ibu hamil juga berubah..
karena perubahan hormon, karena lelah atau karena beratnya permasalahan kehamilan, sehingga ibu hamil menjadi lebih sensitif perasaannya, serta mudah berubah emosinya, mudah terenyuh, mudah sedih, mudah tersinggung, meski lantas akan muda riang kembali.


Lemah yang ketiga,
ikut berkaitan dengan berat fisik dan psikologi, yaitu kondisi ruhiyah ibu hamil juga terpengaruhi.
tanpa menguatkan diri dengan tekat yang besar, rasa malas beribadah bisa muncul, juga keinginan memperturutkan emosi yang naik turun atau memunculkan kesal, sedih, marah, atau berjuta keluhan.

Tapi meskipun demikian, untuk kita para ibu hamil
kita harus Ikhlas, syukur, sabar.....
meski telah dinyatakan Quran bahwa ibu hamil itu tengah menjalani kehidupan yang lemah dan bertambah berat, bukan berarti ayat itu menjadi sebuah legimitasi buat kita para ibu hamil untuk terpuruk dalam konteks beratnya saja.

Kehamilan dan melahirkan memiliki keutamaan-keutamaan yang sangat banyak.
so..
yuk, kita jadikan kehamilan sebagai sesuatu yang istimewa :)

Termasuk Riba kah??

      Ketika pembentukan organisasi atau institusi bisnis dilakukan dalam perspektif Islam tetapi sistem operasional yang digunakan berbasis pada filosofi yang berbeda dengan Islam, maka hal ini akan menyebabkan inkonsistensi dan penyimpangan perilaku agen Muslim yang bisa mengarah kembali kepada tujuan ekonomi sekuler kapitalistik.  Demikian pula, penerapan etika Islam dalam praktik organisasi dan institusi bisnis tetapi tanpa dilandasi oleh tujuan dan prinsip organisasi yang sesuai Islam akan melahirkan kesan kapitalisme berbaju Islam.

     Dalam konteks organisasi, tata kelola atau manajemen dan akuntansi merupakan dua hal pokok yang menjadi ciri khas suatu organisasi.
-----

Sebut saja, sebuah Universitas XX yang membuka program ekonomi Islam
hari itu, beredarlah sms dari kosma sebagai perpanjangan informasi dari akademik, dengan isi sms "pembayaran uang SPP, terakhir pembayaran 11 Februari 2011"

Sekilas sms itu biasa saja, ada hak tentulah ada kewajiban.
yang kemudian menjadi selaksa tanya adalah kebijakan yang mengikutinya..
bila :
- Pembayaran SPP, belum dilakukan sampai batas akhir ( 11 Februari 2011) akan diberikan dispensasi sampai 1 pekan, dengan denda 10% * hal ini berarti bila SPP, 10 juta maka akan menjadi 11 juta.

- Bila pembayaran SPP inipun dari waktu dispensasi 1 pekan yang diberikan, belum juga dilakukan pembayaran, masih akan diberikan dispensasi kembali selama 1 pekan dengan denda 20% * hal ini berarti, bila SPP 10 juta, maka menjadi 12 juta.

- Bila pembayaran SPP inipun dari 2 dispensasi waktu yang diberikan, belum juga dapat melakukan pembayaran, maka terhitung alfa studi dan tetap punya kewajiban bayar SPP, dengan kata lain denda 100% *hal ini berarti, bila SPP 10 juta, maka semester depan, kewajiban yang harus dibayar 20 juta.
----

Praktik mendahului teori, itulah yang sering saya dengar bila menyangkut tentang perbincangan Ekonomi Islam apalagi bila kita khususkan lagi pada perbankan Syariah, namun bukan itu inti persoalannya..
wajar saja, karena perbankan syariah sedang dalam taraf berkembang menuju syariah, bisa saja sedang mencapai 10%, 20%, 30%, 50% tetapi tidak menutup kemungkinan akan mencapai 100%. amin.
yang akan menjadi masalah, bila kita tidak turut andil menjadi pejuang ekonomi Islam didalamnya, tidak turut mengawasi perkembangannya,,,,
---
Menurut rekan-rekan,
kasus diatas yang saya paparkan, termasuk riba kah??


Menyelami Mukjizat.... * SEDEKAH*




Hanya ingin berbagi :
--------
ada hal yang membuatku terpesona..bahkan lebih dari sekedar ungkapan terpesona kala ku pelajari Qs. albaqarah 280 ini.
ayat ini berkaitan tentang sedekah,


Allah swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 280, yang berbunyi

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya “dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”
---
berikut uraian yang ingin dibagikan:
1.      Tafsir AlKhoziin, Babu Ta’wil Fi Ma’aani Attanziil


وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ  
  Yaitu dan jika kamu mensedekahkan hartamu kepada orang yang dalam kesusahan atau kesempitan yaitu dengan jalan, membayarkan hutangnya, maka meninggalkan hartamu demi menyelamatkan orang yang dalam kesusahan tersebut, itu lebih baik bagimu. (hal 212, jilid 1) darul kutub ilmiah.


2.      Tafsir AlBaidhowi, Anwaru Tanzil Wa Asroru Ta’wil

وَأَنْ تَصَدَّقُوا
Yaitu bil ibro’, yaitu dengan membebaskan hutang orang yang berada dalam kesulitan, masdhar dari abro’a (membebaskan)
Menurut qiro’ah ‘ashim (salah satu qori’) bitakhfifishshod, bacaannya wa anntshshdaku.

خَيْرٌ لَكُمْ
Yaitu aksaru stawaaban minal inzhor , artinya lebih banyak pahalanya dari pada menunggu. (menunggu sampai orang tersebut mendapat kemudahan untuk membayar hutangnya) atau lebih baik dari hutang  yang kamu ambil,  untuk melipat gandakan pahala dan menjadi amal jariah yang terus menerus bagimu.

Dan Qiila: memiliki beberapa kemungkinan (bisa jadi pendapat yang lemah, atau bisa jadi perkataan yang tidak diketahui siapa yang bicaranya) yang dimaksudkan dengan Bitashoddukil inzhor , sesuai dengan hadits yang berbunyi “La yahilli daina rojulin muslimin fa yuakhirohu illa kaana lahu bi kulli yaumin sadakoh” artinya:….. (tidaklah boleh bagi seorang lelaki muslim itu mengakhirkan hutangnya kecuali baginya setiap hari bersedekah)  (Hal 143, jilid 1) darul bayan al’arobi mesir.

Maksudnya adalah seseorang yang memberi keringanan untuk menta’khirkan hutang orang lain maka baginya pahala sedekah.

3.      Tafsir Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Azhim

وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Yaitu apabila kamu meninggalkan harta secara umum, untuk membayarkan hutang orang yang berhutang

dan ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang ini:
---“Barang siapa yang Allah beri kemudahan, maka Allah akan menolongnya di hari tidak ada pertolongan kecuali pertolongan Allah swt, maka mudahkanlah orang yang berkesusahan atau yang berkesempitan…--

Hadits lain:
--Barang siapa yang memberikan kemudahan pada orang yang berkesusahan maka baginya setiap hari akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia berikan sebagai sedekah”---

Hadits yang lain:
---“Barang siapa yang memiliki hutang pada seseorang, kemudian ia mengakhirkannya, maka baginya setiap hari itu sedekah”---

Hadits yang lain:
 ---Barang siapa yang memiliki hutang pada seseorang, kemudian ia mengakhirkannya, maka baginya setiap hari itu sedekah”
         

4.      Tafsir Al Maroghi

وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ
Asal dari kata tashodaku adalah tatashoddaku yaitu sedekah yang kamu berikan kepada orang-orang susah yang berhutang dengan membayarkan hutang mereka seluruhnya atau sebahagian, itu lebih baik bagimu, dari pada menangguhkan (mengakhirkan) hutang mereka dan lebih besar pahalanya di sisi Allah swt.
Dalam pembahasan ayat ini berbicara tentang DORONGAN UNTUK BERSEDEKAH, dan toleransi terhadap orang-orang susah yang berhutang. Yaitu dengan jalan lemah lembut, kasih sayang, dan berbuat baik terhadap sesama. (memiliki tasamuh yang tinggi)

Catatan penting:
Ayat ini menjadi dalil atas wajibnya memberi tangguhan terhadap orang susah yang berhutang, sampai dia memiliki kelapangan untuk melunasi hutangnya. Dan sebaik-baik yang dilakukan adalah membebaskannya dan bersedekah dengan jumlah hutang tersebut.
Dan hal tersebut akan menciptakan hubungan yang baik diantara sesama di antara kita, dan menyempurnakan ikatan ummat, sebagaimana terdapat dalam hadits:
---“Seorang mu’min terhadap mu’min yang lain itu bagaikan sebuah bangunan, yang saling mengokohkan bahagian yang satu dengan bahagian yang lainnya”HR Bukhari
 Hal 429, jilid 1 Darul Kutub Ilmiah Beirut

5.      Tafsir Atsa’labi, Alkasfhu walbayaanu fi tafsirin qur’an, Abu Ishaq Atssa’labi

وَأَنْ تَصَدَّقُوا
Jika kamu mensedekahkan hartamu terhadap orang yang berkesusahan, maka janganlah kamu meminta dengan memberikan syarat apa-apa (jangan di ikat), maka itu lebih baik bagimu. Karena memberi syarat akan membuat beban lagi kepada yang akan membayar hutangnya (Hal 470,  Jilid 1 Darul Kutub Ilmiah Beirut Libanan)


6.      Tafsir Jalalain
(Dan jika dia), yakni orang yang berutang itu (dalam kesulitan, maka hendaklah diberi tangguh) maksudnya hendaklah kamu undurkan pembayarannya (sampai dia berkelapangan) dibaca 'maisarah' atau 'maisurah'. (Dan jika kamu menyedekahkannya), dibaca dengan tasydid, yakni setelah mengidgamkan ta pada asalnya pada shad menjadi 'tashshaddaqu', juga tanpa tasydid hingga dibaca 'tashaddaqu', yakni telah dibuang ta, sedangkan artinya ialah mengeluarkan sedekah kepada orang yang sedang dalam kesusahan itu dengan jalan membebaskannya dari utang, baik sebagian maupun keseluruhan (itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui) bahwa demikian itu baik, maka kerjakanlah!
Dalam sebuah hadis disebutkan, "Barang siapa yang memberi tangguh orang yang dalam kesusahan atau membebaskannya dari utang, maka Allah akan melindunginya dalam naungan-Nya, di hari saat tak ada naungan selain naungan-Nya." (H.R. Muslim)

7.      Tafsir AlQhurtubi, Aljami’u Li ahkamil Qur’an

وَأَنْ تَصَدَّقُوا
  Yang dimaksudkan dengan lafaz ini adalah menganjurkan untuk bersedekah terhadap orang susah yang berhutang (Mu’asir), dan itu lebih baik daripada memberikan tangguhan terhadapnya.

            Imam Thobarri mengatakan: “Wa Antashoddaku ‘alal Qhoniy wal Faqir” Khairulakum, namun pendapat yang kuat adlah yang pertama, dan tidak ada pengkhususan terhadap orang yang kaya. (Hal 329 jilid 2, darul hadits alqohiro)

8.      Tafsir Samar Qhondi

وَأَنْ تَصَدَّقُوا
Kalau kamu sedekahkan apa yang kamu pinjamkan tersebut, dan tidak kamu ambil pinjaman itu, maka hal tersebut (khairullakum) lebih baik bagimu.

 Wa yuqoolu: di katakan :
Apabila kamu sedekahkan dengan jalan menangguhkannya, maka itu lebih baik bagimu, sesungguhnya sedekah itu lebih baik bagimu.


9.      Tafsir ArRozi (Tafsir AlKabiir) Mafatihul Ghaib

Ada beberapa masalah yang di paparkan beliau dalam ayat ini, diantaranya:
1.      Qora’a ‘ashim bitakhfifisshod wal baaqul bitasydidin, dengan 2 ta ( An tatashaddaku) dan pendapat yang mentakhfifkan menghapus satu ta nya, dan pendapat yang mentasdikkan mengidghamkan ta nya.

2.      Tentang Sedekah, ada 2 qoul:
1.      Maknanya adalah bersedekah terhadap orang susah yang berhutang, bukan kepada selainnya.
2.      Yang di makasud dengan (Tashadaqul inzhar) qoul ini lemah, mengapa dikatakan lemah?? Karena penanggungan hutang (alinzhar) sudah disebutkan wajibnya pada ayat pertama. Oleh sebab itu harus mengambil faedah baru dari ayat ini, karena lafaz (Khairu lakum) tidak ada kaitannya dengan wajib, tetapi dianjurkan (mandub)

3.      Tentang Khair, yang dimaksud (khair) pujian di dunia dan pahala berlipat ganda di akhirat. (Hal 91, jilid 7 dan 8, Darul Kutub Ilmiah, Beirut)

Kesimpulan:
Dari beberapa sumber tafsir di atas, para ulama tafsir kita telah mengemukakan artian atau tafsiran dari kata (Anthashoddaku) bisa memiliki beberapa maksud, diantaranya:
a.       Sedekah tingkatan pertama adalah bahwa memberi kelonggaran atau tangguhan kepada orang susah yang berhutang.
b.      Sedekah tingkatan kedua adalah bahwa melunasi sebahagian atau keseluruhan dari hutang orang susah yang berhutang.
c.       Sedekah tingkatan ketiga adalah bahwa melunasi hutang orang yang dalam keadaan susah, dengan tidak memberikan syarat atau beban apa-apa.
Ketiga tingkatan di atas, dikunci dengan kata-kata (Khairullakum) semua yang dilakukan apa yang disebutkan adalah baik, jika kamu mengetahuinya.

Saran
            Sedekah, tidak saja terikat ketika seseorang dalam keadaan susah atau sulit (zu ‘usrotin) artinya sedekah adalah salah satu bukti keimanan kita kepada Allah swt. Bukti bahwa kita mampu memberikan sebahagian titipan Allah swt kepada hamba-hamba yang lain, yang mungkin dalam keadaan sempit ataupun lapang.
Wallahua’lam.
--
hmmm...
sepertinya membebaskan orang2 yang berhutang, adalah sedekah yang terbaik..
karena Allohlah yang akan membayarnya..
menurutmu?...
 

Jangan Serahkan Anakmu Pada TV


* Rehat dari koreksi Mid Semester, mengunjungi anakku tercinta, upsss maksdnya blog :D
-----
Rabbit (kelinci)...
Yup…sebuah julukan yang cukup menarik perhatianku, aku rasa banyak para ibu-ibu rumah tangga yang mendapat julukan itu.
Rabbit adalah tokoh pada buku cerita anak-anak yang terkenal itu “Alice in Wonderland”. Mr.Rabbit dalam cerita itu selalu berjalan cepat-cepat sambil berkata, “oh…I`m late….I`m late” ( oh…aku terlambat ).
Mirip dengan suasana di pagi hari dalam sebuah kehidupan rumah tangga bernama keluarga. Biasanya ibu-ibu rumah tangga itu dipagi hari sibuk hilir mudik dengan sangat bergegas mengurus ini-itu dirumahnya.

Dalam kondisi seperti itu akan sangat menyenangkan sekali, bila anak-anak tidak rewel. Anak rewel akan menyita perhatian hingga urusan si ibu bisa terbengkalai.
Tidak dapat dinafikan, kebanyakan dari ibu-ibu memilih TV sebagai obat paling manjur untuk ‘membungkam” kerewelan anak di pagi hari.
Kini TV menjadi sahabat anak-anak sejak subuh, sejak pukul 5 pagi sudah ada kartun yang diputar dan begitulah susul-menyusul anak-anak dapat menikmati sajian acara anak di berbagai stasiun. Acara-acara itu menjadi teman setia anak yang membuat anak mau cepat-cepat mandi agar dapat menikmati sambil sarapan atau ganti baju sambil menunggu waktu berangkat sekolah.
Bahkan ada juga beberapa keluarga, acara TV justru dijadikan pemikat jitu untuk membangunkan anak.

Apakah anda termasuk pada ibu yang menyerahkan anaknya ke TV?
Ibu! Dengan menyuruh anak menonton TV, satu masalah memang selesai, mereka tidak lagi menghambat kesibukan orangtua, namun ada masalah lain yang timbul..
Ketika kita semua sangat sibuk sementara anak asyik menonton TV, biasanya kita tak perduli acara apa yang ditontonnya, yang penting anak anteng, tenang.
Disinilah letak masalahnya, kita tidak tahu persis apa yang dilihat anak. Kita tidak tahu muatan TV itu sehat atau tidak, mengandung muatan yang menakutkan anak atau tidak, bermuatan dewasa atau tidak, dan seterusnya.

Karena sibuk, kita tidak mendampingi anak menonton. Ketika ia menikmati TV sendirian, ia akan menelan semua apa yang dilihat dan didengarnya dari TV. Jika yang disajikan sehat, Alhamdulillah, anak akan menelan sajian bergizi, jika tidak, maka sampahlah yang ditelan anak. Dan itu menyedihkan.

Namun, kalo toh sajian acara anak itu memang baik untuk anak (misal filem kartun yang relatif bersih untuk anak), anak tak sepenuhnya dapat terhindar dari muatan yang tak sehat untuknya. Kemungkinan ada iklan yang tidak sehat untuk anak, baik itu iklan produk atau iklan promo acara di stasiun TV yang bersangkutan.

TV memang sangat potensial memikat anak. Ini tidak diragukan lagi, tapi benarkah TV adalah satu-satunya pemikat bagi anak? Jawabannya TIDAK
Ada banyak hal lain di pagi hari yang bisa dilakukan anak yang membuatnya asyik, tak mengganggu kesibukan orang tua, yang harus dilakukan orang tua hanya satu: merancang kegiatan itu apa. 
Dan itu bisa sesuatu yang tidak sulit-sulit amat. Misalnya, memberinya majalah anak, memberinya kertas lipat untuk membuat origami, memberi pensil warna atau crayon dan kertas gambar, memberi puzzle, memberi karton berkas air mineral untuk membuat prakarya, memberi batu bersih untuk dicat, menonton film anak (yang sebelumnya sudah diseleksi) di VCD atau DVD dll..

Yang diperlukan orangtua sebelumnya adalah menyisihkan waktu merancang kegiatan ini untuk kurun waktu tertentu, misal menyiapkan kegiatan untuk 3 hari, seminggu, dll.
Makin lama, jika anak tak dibiasakan “melarikan diri” ke TV, mereka juga makin pintar untuk mencari kegiatan sendiri yang berguna untuk dirinya sendiri. Jadi mereka juga menjadi kreatif.
Yuk, mulai sekarang jadikan TV bukan teman setia anak satu-satunya di pagi hari
Berani mencoba?!! demi sibuah hati anda :)

Mentarbiyah Dengan Cinta

Sarana tarbiyah dengan cinta, atau bahasa cinta, atau abcd cinta, ada 8 perkara:
1. Kosa kata cinta
2. Pandang mata cinta
3. Suapan cinta
4. Sentuhan cinta
5. Selimut cinta
6. Pelukan cinta
7. Ciuman cinta
8. Senyum cinta

Pertama: Kosa kata cinta
Berapa kosa kata cinta kita ucapkan kepada anak-anak kita?
Dalam sebuah kajian dikatakan: seorang anak dari bayi sampai ABG telah mendengar tidak kurang dari 16 ribu kosa kata buruk, namun, ia hanya mendengar ratusan kosa kata baik!
Image yang tergambar dalam pikiran seorang anak tentang dirinya merupakan salah satu hasil dari omongan yang didengarnya, seakan sebuah kosa kata adalah sebuah kuas di tangan seorang pelukis, bisa jadi ia melukiskannya dengan warna hitam, bisa juga melukiskannya dengan berbagai warna indah. Jadi, kosa kata-kosa kata yang ingin kita ucapkan kepada anak-anak kita, harus yang baik, kalau tidak baik, jangan kita ucapkan
Sebagian orang tua, sebagian kosa katanya (merendahkan, menjelek-jelekkan, merendahkan ciptaan Allah), akibatnya terhadap anak adalah (mengurung diri, permusuhan, ketakutan, tidak percaya diri).

Kedua: pandang mata cinta
Jadikan kedua matamu tepat pada kedua mata anakmu, disertai senyuman, dan bergumamlah dengan suara tidak terdengar: “aku mencintaimu wahai si fulan”, 3 atau 5 atau 10 kali, jika hal itu disikapi oleh anakmu celaan, atau merasa aneh, dan ia berkata: “apa yang kamu lakukan wahai ayahku”, maka jawablah: “aku rindu kepadamu wahai fulan”. Jadi, pandangan mata, dan cara ini, mempunyai dampak dan hasil yang luar biasa.

Ketiga: suapan cinta
Cara ini tidak boleh dilakukan kecuali seluruh anggota keluarga berkumpul di satu meja makan. [nasihat: janganlah menempatkan tv di ruang makan], agar terjadi interaksi dan pertukaran pandangan mata. Dan saat menikmati santapan makan, hendaklah orang tua berusaha menyuapkan beberapa suap ke mulut anaknya [dengan catatan, anak kelas V atau VI SD ke atas, pasti merasa bahwa cara ini tidak bisa mereka terima],
jika sang anak menolak menerima suapan itu di mulutnya, maka letakkan pada sendok atau piringnya. Hendaklah saat menyuapi disertai dengan pandangan mata cinta diiringi senyuman, kosa kata indah dan suara pelan: “demi Allah wahai anakku, saya sangat ingin menyuapimu dengan suapan ini, ini adalah kurir cintaku wahai sayangku”, setelah ini, pasti dia mau menerimanya.

Keempat: sentuhan cinta
DR. Maisarah berkata: saya naihatkan agar orang tua memperbanyak sentuhan terhadap anaknya. Bukan sebuah kebijakan jika seorang ayah berbicara dengan anaknya pada dua kursi yang berbeda. Sebaiknya sang anak ada di sampingnya, dan hendaklah tangan sang ayah menempel di bahu anaknya (tangan kana nada di bahu kanan).

Kemudian DR. Maisarah menjelaskan cara nabi SAW menghadapi lawan bicaranya: “Nabi Muhammad SAW menempelkan kedua lututnya dengan lutut lawan bicaranya, dan meletakkan kedua tangan beliau di atas kedua paha lawan bicaranya, dan posisi menghadap secara penuh”. 

Sekarang terbukti bahwa sekedar sentuhan seseorang merasa dicintai dan kehangatan hubungan meningkat ke puncak tertinggi. Karenanya, jika hendak berbicara dengan sang anak, atau hendak menasihatinya, janganlah duduk berjauhan, sebab, dengan begini, terpaksa harus bersuara keras, dan [suara keras membuat sang anak lari] dan jika sang anak itu laki-laki, maka peganglah bagian pahanya, dan jika sang anak perempuan, maka peganglah bahunya, dan peganglah tangannya dengan penuh kasih saying, letakkan kepala sang anak pada bahu sang ayah, agar ia merasa dekat, aman, dan tersayang, sambil katakana: “Aku bersamamu, aku akan memohonkan pengampunan untukmu jika kamu bersalah”.

Kelima: selimut cinta
Hendaklah setiap malam seorang ayah atau ibu melakukannya, jika sang anak telah tidur, maka datangilah ia dan ciumlah, niscaya dia akan merasakan kehadiranmu, karena jenggot wajahmu yang biasa engkau bercanda dengannya, jika ia membuka satu matanya sedangkan yang lainnya masih meram dan ia berkata: “engkau datang wahai ayahku?”
Maka katakana kepadanya: “Betul, aku datang wahai sayangku!”.
Dan selimutilah dia
Dalam pemandangan ini, sang anak akan berada dalam kondisi setengah sadar antara tidur dan tidak, dan pemandangan tadi akan tetanam dalam pikirannya, dan saat ia terbangun pada esok harinya, ia akan teringat bahwa semalam ayahnya datang dan melakukan ini dan itu.
Dengan perbuatan seperti ini, menjadi dekatlah jarak antara orang tua dan anak dan kita wajib dekat dengan anak dengan pisik dan hati kita.

Keenam: dakapan cinta
Janganlah kalian pelit dengan dekapan terhadap anak. Sebab, keperluan anak kepada dekapan sama dengan keperluannya kepada makanan, minuman dan udara, setiap kali ada yang terkonsumsi, niscaya diperlukan yang lainnya.

Ketujuh: ciuman cinta
Rasulullah SAW mencium salah seorang cucunya; Hasan atau Husain. Perbuatan ini terlihat oleh al-Aqra’ bin Habis, maka ia berkata: “Apakah engkau mencium anak-anak kecil?!! Demi Allah, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka!! Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kalau saja aku mempunyai kemampuan untuk mencabut kasih sayang dari dalam hatimu”

Wahai para orang tua, ciuman kepada anak merupakan satu ekspresi kasih sayang, betul, kasih sayang yang menjadi focus ajaran Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa ia merupakan rahasian ketertarikan manusia kepada suatu keyakinan, dan jika kasih sayang ini hilang dari perilaku kita terhadap anak-anak kita, berarti kita telah menjauhkan mereka dari kita, baik kita sebagai perseorangan maupun kita sebagai para da’i, da’i Islam.

Kedelapan: Senyum cinta
Inilah sarana-sarana cinta, siapa yang menerapkannya, niscaya mendapatkan cinta dari mereka yang berinteraksi dengannya.

Sebagian orang tua saat dinasihati demikian berkomentar: “Kami tidak terbiasa”.
Subhanallah!! Adakah kebiasaan itu Qur’an yang turun dari langit yang kita tidak bisa merubahnya!!

Sarana-sarana ini ibarat air, dengannya tanaman cinta akan tumbuh di dalam hati. Dan jika kita ingin dibaiki oleh anak kita, baikilah anak kita, dan sayangilah mereka.
Perlu diketahui bahwa cinta tidak sama dengan tutup mata atau membiarkan kesalahan.
----
Mentarbiyah dgn cinta  by DR.Maisarah Thahir
Materi lingkaranku.pekan kmrn..hiks..hiks...

Zakat

Berawal dari pertanyaan anggota grup “karena Mu aku menjaganya” perihal zakat gaji = zakat Profesi, pada kesempatan ini, sedikit ingin saya menuangkan secara sederhana dari apa yang saya ketahui, moga bisa bermanfaat bagi pengunjung blog

Zakat merupakan instrumen dari syariat Islam, yang mempunyai dua dimensi kesholehan yakni untuk pribadi dan untuk masyarakat, hal ini berbeda dengan yang lainnya (Sholat, Puasa,) yang hanya memiliki satu dimensi kesholehan.
kalimat penyederhanaannya seperti ini:
Bila kita sholat, itu hanya antara kita dengan Alloh SWT semata begitu pula dengan puasa, hanya berfungsi untuk kesholehan pribadi, berbeda dengan zakat, selain antara pribadi kita dengan Alloh SWT, zakat juga berfungsi secara masyarakat.

Pengertian Zakat secara Bahasa, mempunyai 4 pengertian :
1. That-hir (bersih) 
Pelaksanaan ibadah zakat merupakan ibadah yang merupakan kewajiban atas hartanya bagi setiap muslim   yang telah mampu mengeluarkan “ Sesungguhnya didalam kekayaannya ada hak yang harus dikeluarkan”
2. Tazkiyah ( Suci )
Dalam pengertian ini, suci berdasarkan batiniah (ruh) oleh sebab itu dengan berzakat akan dapat membunuh sifat-sifat buruk (kikir, bakhil, dll)
3. Al-numu (Tumbuh dan berkembang)
Zakat yang dikeluarkan seseorang sesungguhnya tidaklah habis disisi Alloh, karena ia akan menjadi kebaikan bagi yang membayarkannya.
4. Berkah
Harta adalah ujian, dia akan menjadi berkah karena menjadikan orangnya bersyukur atas harta yang ia miliki.

Apabila zakat dapat dikelola dengan baik, maka kita tidak perlu asuransi atau takaful, sebagai renungan : siapakah yang memperoleh premi dari asuransi dan takaful?? Yang memperoleh premi adalah orang-orang kaya, lalu bagaimana dengan si miskin??

Pengertian Zakat secara Istilah
Zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu.
Kalimat penyederhanaannya seperti ini : jadi tidak semua harta wajib dizakatkan, tetapi hanya harta yang produktif saja, misal anda mempunyai rumah yang digunakan untuk tempat tinggal, maka rumah itu tidak wajib zakat , karena harta (rumah) yang anda miliki bukan merupakan harta produktif, lain halnya bila rumah anda disewakan/ dikontrakkan, maka rumah tersebut wajib zakat dari perhitungan transaksinya.
Dan tidak semua yang produktif harus dizakatkan, tapi ianya akan wajib zakat bila telah sampai nishob dan telah mencapai haul/ batas waktu.

Berikut saya paparkan, Syarat Harta yang wajib Zakat
1. Harta yang halal lagi baik
2. Harta produktif
3. Milik Penuh dan berkuasa menggunakannya, oleh sebab itu, bila anda pinjam uang ke bank, misal 100 juta, anda tidak wajib zakat karena harta itu bukan milik penuh anda)
4. Mencapai nishob
5. Surplus dari kebutuhan primer dan terbebas dari hutang
6. Haul mencapai waktu.

Lalu pertanyaannya bagaimana dengan Zakat gaji = Profesi?
Zakat gaji = profesi dikeluarkan bila gaji anda mencapa 3.250.000,- maka wajib bagi anda mengeluarkan zakat 2.5%
Lalu pertanyaannya
Bagaimana bila anda mempunyai hutang? Maka hutang untuk kebutuhan primer itu akan menjadi pengurang zakat,
Kalimat penyederhanaannya seperti ini:
Misal gaji anda 3.500.000,-, kemudian punya hutang untuk kebutuhan primer, sisa 1 juta, maka anda tidak punya kewajiban zakat, tapi bisa saja dikeluarkan infak :)

Moga artikel Zakat yang sederhana ini bisa bermanfaat, terkadang nilai nominal zakat yang kita keluarkan itu lebih kecil sebenarnya dari infak yang kita keluarkan untuk berinfak, misal ketika setiap memasuki Mesjid dengan mudahnya kita infak 50.000, -, tetapi untuk membayar zakat mengapa kita begitu sulit, ya..begitulah manusia, namun semoga saja yang sunah tidak mengalahkan yang wajib (amiin)

Meta Ekonomi Dalam Larangan Riba



Firman Allah : “Apa yang kamu berikan (pinjaman) dalam bentuk riba agar harta manusia betambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah” (QS.ar-Rum : 39).Menurut pandangan kebanyakan manusia, pinjaman dengan sistem bunga akan dapat membantu ekonomi masyarakat yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat.

Anggapan tersebut telah menjadi keyakinan kuat hampir setiap orang, baik ekonom, pemeritah maupun praktisi. Keyakinan kuat itu juga terdapat pada inetelektual muslim terdidik yang tidak berlatar belakang pendidikan ekonomi. Karena itu tidak aneh, jika para pejabat negara dan direktur perbankan seringkali bangga melaporkan jumlah kredit yang dikucurkan untuk pengusaha kecil sekian puluh triliun rupiah. Begitulah pandangan dan keyakinan hampir semua manusia saat ini dalam memandang sistem kredit dengan instrumen bunga. Itulah pandangan material (zahir) manusia yang seringkali terbatas.Pandangan umum di atas dibantah oleh Allah dalam Al-quran surah Ar-Rum : 39,

“ Apa “Apa yang kamu berikan (berupa pinjaman) dalam bentuk riba agar harta manusia bertambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah” (QS.ar-Rum : 39).

Ayat ini menyampaikan pesan moral, bahwa pinjaman (kredit) dengan sistem bunga tidak akan membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara agregat dan adil. Pandangan Al-quran ini secara selintas sangat kontras dengan pandangan manusia kebanyakan. Manusia menyatakan bahwa pinjaman dengan sistem bunga akan meningkatkan ekonomi masyarakat, sementara menurut Allah, pinjaman dengan sistem bunga tidak membuat ekonomi tumbuh dan berkembang.Mengapa Allah mengatakan pinjaman kredit dengan sistem bunga tidak menumbuhkan ekonomi ?. Di sinilah keterbatasan akal (pemikiran) sebagian besar manusia. Mereka hanya memandang secara dangkal, kasat mata dan material (zahir) belaka. Dari sinilah muncul konsep meta-ekonomi Islam, yaitu, sebuah pandangan ekonomi yang berada di luar akal material manusia.

Dampak Bunga.

Harus dicatat, bahwa Al-quran membicarakan riba (bunga) dalam ayat tersebut dalam konteks ekonomi makro, bukan ”hanya” ekonomi mikro. Bahkan sisi ekonomi makro jauh lebih besar. Kesalahan manusia kapitalis, termasuk ahli agama Islam yang tak berlatar belakang ekonomi, adalah menempatkan dan membahas riba dalam konteks ekonomi mikro semata.

Membicarakan riba dalam konteks ekonomi makro adalah mengkaji dampak riba terhadap ekonomi masyarakat secara agregat (menyeluruh), bukan individu atau perusahaann (institusi). Sedangkan membicarakan riba dalam lingkup mikro, adalah membahas riba hanya dari sisi hubungan kontrak antara debitur dan kreditur. Biasanya yang dibahas berapa persen bunga yang harus dibayar oleh si A atau perusahaan X selaku debitur kepada kreditur. Juga, apakah bunga yang dibayar debitur sifatnya memberatkan atau menguntungkan. Ini disebut kajian dari perspektif ekonomi mikro.Padahal dalam ayat, Al-Quran menyoroti praktek riba yang telah sistemik, yaitu riba yang telah menjadi sistem di mana-mana, riba yang telah menjadi instrumen ekonomi, sebagaimana yang diyakini para penganut sistem ekonomi kapitalisme.

Dalam sistem kapitalis ini, bunga bank (interest rate) merupakan jantung dari sistem perekonomian. Hampir tak ada sisi dari perekonomian, yang luput dari mekanisme kredit bunga bank (credit system). Mulai dari transaksi lokal pada semua struktur ekonomi negara, hingga perdagangan internasional.Jika riba telah menjadi sistem yang mapan dan telah mengkristal sedemikian kuatnya, maka sistem itu akan dapat menimbulkan dampak buruk bagi perekonomian secara luas.

Dampak sistem ekonomi ribawi tersebut sangat membahayakan perekonomian.

Pertama, Sistem ekonomi ribawi telah banyak menimbulkan krisis ekonomi di mana-mana sepanjang sejarah, sejak tahun 1930 sampai saat ini. Sistem ekonomi ribawi telah membuka peluang para spekulan untuk melakukan spekulasi yang dapat mengakibatkan volatilitas ekonomi banyak negara. Sistem ekonomi ribawi menjadi punca utama penyebab tidak stabilnya nilai uang (currency) sebuah negara. Karena uang senantiasa akan berpindah dari negara yang tingkat bunga riel yang rendah ke negara yang tingkat bunga riel yang lebih tinggi akibat para spekulator ingin memperoleh keuntungan besar dengan menyimpan uangnya dimana tingkat bunga riel relatif tinggi. Usaha memperoleh keuntungan dengan cara ini, dalam istilah ekonomi disebut dengan arbitraging. Tingkat bunga riel disini dimaksudkan adalah tingkat bunga minus tingkat inflasi.

Kedua, di bawah sistem ekonomi ribawi, kesenjangan pertumbuhan ekonomi masyarakat dunia makin terjadi secara konstant, sehingga yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Data IMF menunjukkan bagaimana kesenjangan tersebut terjadi sejak tahun 1965 sampai hari ini.

Ketiga, Suku bunga juga berpengaruh terhadap investasi, produksi dan terciptanya pengangguran. Semakin tinggi suku bunga, maka investasi semakin menurun. Jika investasi menurun, produksi juga menurun. Jika produksi menurun, maka akan meningkatkan angka pengangguran

Keempat, Teori ekonomi juga mengajarkan bahwa suku bunga akan secara signifikan menimbulkan inflasi. Inflasi yang disebabkan oleh bunga adalah inflasi yang terjadi akibat ulah tangan manusia. Inflasi seperti ini sangat dibenci Islam, sebagaimana ditulis Dhiayuddin Ahmad dalam buku Al-Quran dan Pengentasan Kemiskinan. Inflasi akan menurunkan daya beli atau memiskinkan rakyat dengan asumsi cateris paribus.

Kelima, Sistem ekonomi ribawi juga telah menjerumuskan negara-negara berkembang kepada debt trap (jebakan hutang) yang dalam, sehingga untuk membayar bunga saja mereka kesulitan, apalagi bersama pokoknya.

Keenam, dalam konteks Indonesia, dampak bunga tidak hanya sebatas itu, tetapi juga berdampak terhadap pengurasan dana APBN. Bunga telah membebani APBN untuk membayar bunga obligasi kepada perbakan konvensional yang telah dibantu dengan BLBI. Selain bunga obligasi juga membayar bunga SBI. Pembayaran bunga yang besar inilah yang membuat APBN kita defisit setiap tahun. Seharusnya APBN kita surplus setiap tahun dalam mumlah yang besar, tetapi karena sistem moneter Indonesia menggunakan sistem riba, maka tak ayal lagi, dampaknya bagi seluruh rakyat Indonesia sangat mengerikan .

Dengan fakta tersebut, maka benarlah Allah yang mengatakan bahwa sistem bunga tidak menumbuhkan ekonomi masyarakat, tapi justru menghancurkan sendi-sendi perekonomian negara, bangsa dan masyarakat secara luas. Itulah sebabnya, maka lanjutan ayat tersebut pada ayat ke 41 berbunyi :”Telah nyata kerusakan di darat dan di laut, karena ulah tangan manusia, supaya kami timpakan kepada mereka akibat dari sebagian perilaku mereka.Mudah-mudahan mereka kembali ke jalan Allah”Konteks ayat ini sebenarnya berkaitan dengan dampak sistem moneter ribawi yang dijalankan oleh manusia. Kerusakan ekonomi dunia dan Indonesia berupa krisis saat ini adalah akibat ulah tangan manusia yang menerapkan riba yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Dalam pendangan seorang banker atau debitur, sistem bunga yang mereka terapkan yang dilandasi saling ridha dan terkesan tidak ada saling menzalimi di antara mereka, dianggap sebagai sebuah sistem yang wajar dan tidak menjadi masalah. Bahkan bersifat positif-konstruktif bagi masyarakat. Inilah pandangan ekonomi mikro yang sering menjerumuskan banyak orang yang akalnya terbatas.

Begitulah, akal manusia sering kali tidak bisa menjangkau apa yang dibalik realitas ekonomi. Padahal sistem riba itu justru merusak dan sama sekali tidak membawa pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Inilah yang dijelaskan Al-Quran dalam surah Ar-Rum ayat 39 di atas. Inilah konsep meta ekonomi Islam dalam larangan riba.(Prof. Agustianto, MA)

Pesan ini, Nak, Kutulis untukmu..


Aku tapaki jalan ini penuh pinta, anakku. Kesenangan adalah impian yang kusimpan untuk kuminta pada Tuhan ketika tubuh ini sudah menjadi tulang belulang, sebab dunia terlalu pahit untuk diperebutkan. Tak ada yang abadi dari permainan dunia, sebagaimana hidup ini juga tidak abadi. Banyak sudah manusia yang mati. Dan kita hanya menunggu kematian dipergilirkan.

Mengenangkan orang-orang tercinta, anakku, adalah rasa hina karena tak sanggup membalaskan kebaikan-kebaikan mereka semua. Betapa mudah hati lupa oleh kenikmatan yang tak seberapa ini. Lupa asal-usul, lupa tempat kembali sesudah mati, dan lupa pada tujuan penciptaan ini. Maka aku pesankan, anakku, arahkanlah pandangan mata hatimu kepada hidup sesudah mati. Dan bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah saat untuk bersiap-siap…

Aku tapaki jalan ini penuh airmata, anakku. Aku pernah sakit berbulan-bulan dengan jantung yang sedikit bermasalah. Aku akhirnya bisa bangkit ketika aku belajar melupakan rasa sakit dan tidak sibuk meratap dengan apa yang dikatakan oleh dokter tentang harapan sehat bagi diriku. Kudidik diriku untuk tidak diam terpaku menanti waktu habis di pembaringan. Aku akhirnya bisa duduk dengan tegak tanpa penyakit jantung yang membuat nafas bapakmu megap-megap, ketika bapakmu belajar untuk memberi manfaat bagi manusia. Sesungguhnya keindahan hidup sebagai orang yang beriman kepada-Nya adalah ketika kita bisa memberi manfaat, atau ketika belum sanggup kita mengambil manfaat dari sesama.


Aku namakan dirimu Muhammad Hibatillah Hasanin karena ingin sekali bapakmu ini menjadikan dirimu sebagai hamba-Nya yang memberi manfaat kebaikan sangat besar bagi ummat. Tidaklah aku namakan dirimu dengan main-main. Ada doa yang kuharap dengan sungguh-sungguh melalui nama yang kuberikan itu, anakku. Ada harapan yang kutanam dengan membaguskan namamu, sebagaimana Nabi Saw pernah berpesan kepada kita. Mudah-mudahan dengan membaguskan namamu, Allah ‘Azza wa Jalla meninggikan derajatmu di antara manusia yang ada di muka bumi ini.

Nama itu aku berikan kepadamu, Nak karena engkau adalah anugerah yang amat berharga dari Allah ‘Azza wa Jalla. Engkau lahir di bulan Maret tanggal 18, ketika bapakmu sedang belajar mendakwahkan agama ini dengan ilmu yang tak seberapa. Malam ketika bapak tiba di penginapan, ibumu memberi kabar masuk rumah sakit untuk bersalin. Ingin rasanya bapakmu segera pulang agar bisa menunggui persalinan itu. Tetapi ada tugas yang harus dituntaskan. Gelisah rasanya bapakmu untuk segera kembali karena tahu bahwa di saat-saat seperti ini, tentu ibumu sangat butuh pertolongan. Tetapi andaikan pun bapakmu segera bergegas pulang, perjalanan terlalu jauh untuk bisa ditempuh dengan waktu singkat.

Maka, kemanakah bapakmu harus berlari kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus meminta pertolongan kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus meminta keselamatan kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus mengeluh di saat manusia sudah terlelap tidur, kalau bukan kepada Allah? Bukankah kalau kita mendekat kepada-Nya dengan berjalan, Ia akan menyambut kita dengan berlari? Bukankah kalau kita berjalan kepada-Nya selangkah, Ia akan mendekati kita beberapa langkah?

Di saat bapakmu sedang dalam kegelisahan, ada kabar yang datang dari ibumu bahwa bayi yang akan dilahirkannya sungsang. Petugas mengatakan, kemungkinan baru bisa bersalin siang hari dan kemungkinan besar harus melalui operasi. Padahal waktu itu baru melewati tengah malam. Sangat panjang waktu yang harus dilalui untuk sampai ke siang hari, andaikata perkiraan itu benar.

Maka aku bersihkan diri dan bersuci. Aku serahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sendirian di malam itu aku bermunajat kepada Allah, menyungkurkan kening yang hina ini untuk berdoa kepada-Nya. Di sujud yang terakhir, kumohon dengan sangat agar Ia berkenan memberi keajaiban—ah, rasanya bapakmu belum santun dalam berdoa. Kumohon dengan sangat agar Ia memberi pertolongan.

Dan engkau tahu, anakku, Allah Ta’ala adalah sebaik-baik tempat meminta dan sebaik-baik pemberi. Ia lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Sesungguhnya, Tuhanmu Maha Pemurah. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.s. al-‘Alaq [96]: 1-5).

Seusai shalat dua raka’at dan memanjatkan doa, anakku, segera bapakmu ini mencari kabar tentang dirimu. Kutelepon ibumu dengan harap-harap cemas. Nyaris tak percaya, anakku, Allah Ta’ala benar-benar memberi keajaiban. Seorang sahabat bapak, Mohammad Rozi namanya, yang istrinya menunggui ibumu bersalin, mengabarkan bahwa engkau telah lahir dengan mudah dan lancar. Kelahiranmu, rasanya, anugerah yang tak ternilai harganya. Banyak pelajaran yang bapak renungkan dari peristiwa itu dan ingin kubagi denganmu beserta saudara-saudaramu. Rasanya, setiap kelahiran dari kalian adalah pelajaran berharga tentang kekuasaan, kasih sayang dan kemahapemurahan Allah. Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Sesungguhnya Ia adalah sebaik-baik tempat meminta. Sesungguhnya Ia adalah sebaik-baik penjaga.


Keajaiban yang mengiringi kelahiranmu, mengingatkan bapak agar meyakini janji Allah tanpa ragu. Telah berfirman Allah Ta’ala dalam al-Qur`an, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, pasti Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.s. Muhammad [47]: 7).

Apakah Allah butuh pertolongan? Tidak. Sama sekali tidak, Nak. Maha Suci Allah dari membutuhkan pertolongan. Tetapi seruan Allah Ta’ala ini bermakna agar engkau mengingati tugas yang dipikulkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita semua. Sesungguhnya tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah. Tugas kita sebagai khalifatullah di muka bumi ini, anakku, juga di atas pijakan pengabdian kepada-Nya. Kernanya, makmurkanlah bumi ini sehingga engkau menjadi hadiah Allah bagi ummat dengan menghidupkan tauhid di dalam dadamu dan langkah-langkahmu. Mudah-mudahan dengan demikian, kesucian agama ini memancar dari setiap langkah yang engkau kerjakan.

Aku tulis pesan ini dengan sesungguh hati, Anakku. Meski jiwa bapakmu masih rapuh dan iman ini masih sangat menyedihkan, tetapi sembari memohon pertolongan kepada Allah Yang Menciptakan, izinkan bapakmu berpesan. Ingatlah, wahai Anakku, jangan pernah engkau lepaskan Allah Ta’ala dari hatimu. Genggamlah kesucian tauhid dalam akidahmu sekuat-kuatnya. Cengkeramlah dengan gigi gerahammu sehingga menjiwai setiap kata dan tindakanmu.

Belajarlah mencintai Tuhanmu menurut cara yang dikehendaki oleh-Nya. Betapa banyak orang yang melakukan perjalanan menuju Allah (suluk), tetapi mereka melalui jalan yang tidak disukai-Nya. Mereka mencipta sendiri jalan yang akan dilewati. Mereka mengira sedang memuja Allah, padahal sesungguhnya sedang mencari keasyikan diri untuk menemukan saat-saat yang “memabokkan” (isyiq). Melalui cara ini, kepenatan jiwa memang pergi, Anakku. Tetapi bukan itu yang harus engkau lalui. Bukan itu jalan yang akan membawamu pada ketenangan dan kedamaian. Ia hanya membuatmu lupa sejenak dengan beban-beban duniamu. Sesudahnya, engkau akan segera kembali dalam kepenatan yang melelahkan. Kernanya, ada yang kemudian benar-benar bukan saja lupa pada beban dunianya untuk sementara, tetapi bahkan sampai lupa tanggung jawab dan lupa pada diri sendiri.

Sesungguhnya, ketenangan dan kedamaian jiwa yang sebenar-benarnya ada bersama dengan kebenaran. Sesungguhnya ketenangan itu karena engkau menghadapkan wajahmu kepada Allah untuk mencari ridha-Nya. Engkau kembali dan senantiasa berusaha kembali kepada-Nya, atas setiap khilaf yang terjadi setiap hari, kerna manusia memang tempat salah dan lupa. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang diseru oleh Allah ‘Azza wa Jalla dengan seruan, “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Artinya, bukan ketenangan itu yang menjadi tujuan dari zikir-zikir panjangmu, Anakku. Tetapi ketenangan itu muncul sebagai akibat dari kokohnya keyakinanmu pada Tuhanmu. Sungguh, jangan jadikan agama ini sebagai candu sehingga hatimu jadi beku. Tetapi berjalanlah di atasnya sesuai dengan tuntunan wahyu. Bukan ra’yu. Semoga dengan demikian jiwamu akan terang, hatimu akan tenang dan di akhirat nanti engkau akan meraih kemenangan. Semoga pula kelak engkau akan aku banggakan di hadapan Tuhanmu.

Aku ingin pesankan satu lagi, Anakku. Atas apa-apa yang Allah Ta’ala tidak menjaminkannya bagimu, mintalah kepada-Nya dan berusahalah untuk meraihnya. Iman dan kemenangan di Hari Akhir, termasuk di antaranya. Atas apa-apa yang Allah Ta’ala telah jaminkan bagimu dan bagi seluruh makhluknya, ketahuilah kunci-kuncinya. Rezeki termasuk di dalamnya.

Gunakanlah rezeki yang dikaruniakan Allah kepadamu untuk meraih akhirat dan menjaga iman. Jangan mengorbankan akhirat untuk dunia yang cuma segenggam. Dan apabila engkau mampu, kejarlah akhirat dan sekaligus membuka pintu-pintu dunia. Gunakanlah dunia untuk “membeli” akhirat.
Wallahu a’lam bishawab. Sesungguhnya, tak ada ilmu pada bapakmu ini kecuali sangat sedikit saja.
**********

Referensi :" Saat Berharga untuk anak kita - M.fauzil Adhim"

Menyebarkan Salam


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya ( Qs. An-Nuur (24) : 27 )




Mengucapkan salam itu sunnah dan menjawabnya adalah wajib
Sekilas saya , ingin mengajak anda meninggalkan arti Sunnah dalam pemahaman anak SD, dikerjakan berpahala di tinggalkan tidak berdosa.. , dengan pemahaman yang seperti itu, otak kita masih akan merespon "ah...di tinggalkan tidak apa-apa kok" ya...begitulah cara kerja otak kita.
tapi marilah mulai hari ini, kita mengartikan sunnah sebagai sesuatu yang  DI ANJURKAN untuk dilakukan!!
*****

Salam adalah doa, salam bukanlah ucapan basa-basi atau sekedar sopan santun seperti ucapan "selamat pagi". bila kita mengucap salam, maka sadarilah bahwa kita sedang mendoakan saudara kita, mengharap kebaikan dan kesejahteraannya.

eksperimenkanlah salam kepada saudara kita dengan perasaan cinta, bila perlu tambahkan dengan doa-doa yang lainnya....
***

Selain itu, Alloh SWT akan mengganjarkan dengan pahala yang besar,,

" Imran bin Husain RA mengatakan bahwa seseorang datang kepada Nabi SAw dan mengucapkan " Assalamu`alaykum" maka di jawab oleh Nabi Saw kemudian ia duduk, Nabi berkata "sepuluh".

kemudian datang pula seorang yang lain memberi salam, "Assalamu`alaykum Warahmatullahi" Setelah dijawab oleh Nabi Saw, ia duduk, Nabi pun berkata "Dua Puluh"

Kemudian orang ketiga datang, dengan mengucapkan "Assalamu`alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh", maka dijawab Nabi Saw dan Nabi Berkata "Tiga Puluh" ( HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Subhanalloh....
ingin mendapat 10? atau 30? :)

"Jika kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa) ( Qs. An-Nisa (4) : 86)"

******
Dalam menyebarkan salam, ada aturan-aturan yang harus dipahami, diantaranya :
1. Ketika memasuki rumah (Qs.An-Nur (24) : 61)
2. Ketika hendak bertemu dan berpisah
3. Orang berkendaraan lebih dahulu salam kepada yang berjalan kaki
4. Yang berjalan lebih dahulu salam kepada yang duduk 
5. yang sedikit kepada yang banyak
6. Setelah bertemu lalu berpisah
7. Dianjurkan memberi salam kepada anak-anak dan kaum wanita
8. Tidak memberi salam kepada orang kafir
9. Ketika hendak memasuki dan meninggalkan majelis

Semoga hal2 kecil ini bisa mengingatkan aku dan semua saudara/i ku

"karena Mu aku menjaganya" ....semoga kita bisa menjaga amalan2 kita hanya krn-NYA...

AJALKU TIBA

http://kfk.kompas.com/system/files/imagecache/sfk_preview_600x600/Mendekati_Ajal.jpg Dari ::milis Air Putih
Assalamualaikum Wr.Wb.

Sesuatu yang pasti pada setiap yang bernyawa, semoga bisa jadi bahan renungan

“KISAH YANG MUNGKIN NYATA”

Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba dirumah langsung duduk bersantai sambil melepas penat. sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan langsung sholat sementara anak2 & istri sedang berkumpul diruang tengah.

Dalam kelelahan tadi, saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat dimuka saya. selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri didepanku. Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba2 itu.

Sebelum sempat bertanya…..siapa dia…tiba2 saya merasa dada saya sesak… sulit untuk bernafas…. namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara..sebisanya……

Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari dadaku……terus berjalan……kekerongkonganku….sakittttttttt……..sakit……..rasanya.keluar airmataku menahan rasa sakitnya,…. oh tuhan ada apa dengan diriku….. dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi, benda tadi terus memaksauntuk keluar dari tubuhku…kkhh………khhhh….. kerongkongank berbunyi. seolah tak mampu menahan benda tadi…badanku gemetar… peluh keringat mengucur deras….mataku terbelalak…..air mataku seolah tak berhenti….tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan aku.

Aku melihat benda tadi dibawa oleh orang misterius itu…pergi…berlalu begitu saja….hilang dari pandangan.
Namun setelah itu………aku merasa aku jauh lebih ringan, sehat, segar, cerah… tidak seperti biasanya.

Aku herann… istri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah….. tiba2 terkejut berhamburan kearahku..

Disitu aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat dibawah sofa yang kududuki tadi . badannya dingin kulitnya membiru.siapa dia????????…….. mengapa anak2 & istriku memeluknya sambil menangis… mereka menjerit…histeris …terlebih istriku seolah tak mau melepaskan orang yang terbujur tadi… siapa dia……..????????

Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan…..dia……..dia…….dia mirip dengan aku….ada apa ini Tuhan…???????? Aku mencoba menarik tangan istriku tapi tak mampu…..Aku mencoba merangkul anak2 ku tapi tak bisa …Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku. Aku coba jelaskan kalau aku ada disini.. Aku mulai berteriak…..tapi mereka seolah tak mendengarkan aku………seolah mereka tak melihatku…

Dan mereka terus-menerus menangis….aku sadar..aku sadar…bahwa orang misterius tadi telah membawa roh ku. Aku telah mati…aku telah mati. Aku telah meninggalkan mereka …….. tak kuasa aku menangis ……berteriak……aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku.

Aku sangat sedih.. selama hidupku belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka.Belum banyak yang bisa kulakukan untuk membimbing mereka.

Tapi waktuku telah habis…….masaku telah terlewati……..aku sudah tutup usia ….pada saat aku terduduk disofa setelah lelah seharian bekerja.

Sungguh bila aku tau aku akan mati, aku akan membagi waktu kapan harus bekerja, beribadah, untuk keluarga dll. Aku menyesal aku terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan belum sholat.

Ohh Tuhan, Jika kau ijinkan keadaanku masih hidup masih bisa membaca E-mail ini. sungguh aku amat sangat bahagia. Karena aku masih mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa & berjanji bila maut menjemputku kelak. aku telah berada pada keadaan yang siap.