Tampilkan postingan dengan label Taushiyah dan Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah dan Renungan. Tampilkan semua postingan
Sungguh Kisah Istimewah
--------------------------
Moga kisah ini,, istimewa juga buatmu sahabatku…
********************
Backsound : Silk Road - Kitaro * nggak pake backsound juga nggak apa,, cuma nyamain suasana aza. Coz pas nuliz,, Q dengerin instrument ini ^ - ^
@@@@@@
Di zaman Rasulullah ada seorang sahabat, sahabatnya Nabi SAW,, bernama zaid al khail (pake L “ kuda”)
Beliau menangis dipagi hari, menangis disiang hari, menangis dimalam hari, Keluarganya bertanya “ kenapa engkau sering menangis?? apa yang engkau tangisi??..” zaid al khail menjawab “aku sedang menangisi harapanku,, sudah kah harapanku dikabulkan oleh Alloh SWT. Apa harapanmu? Aku ingin mendapatkan cinta Alloh SWT,
Kemudian zaid al khail, permisi dengan seluruh anggota keluarganya, lantas beliau bergegas datang ke Madinah guna berjumpa dengan Nabi kita muhammad SAW.
Perjalanan rumah Zaid al khail menuju Rasulullah harus menempuh jarak tiga hari tiga malam menggunakan onta ,,namun karena kesemangatannya beliau hanya menggunakan waktu satu hari satu malam tanpa istirahat,, beliau terus berjalan dengan ontanya hingga sampai di Madinah.
Sesampainya di Madinah beliau langsung menjumpai Rasulullah dan beliau langsung berkata “ ya Rasulullah! ,wahai Nabi!! wahai utusan Alloh!!, ketahuilah jarak rumahku menuju rumahmu ini, harus menempuh dengan tiga hari, tiga malam, namun ku tempuh dengan satu hari satu malam,,aku buru-buru, aku cepat-cepat, karena aku takut ya Rasulullah ,aku wafat sebelum aku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku atau engkau yang kembali ke Rahmatullah sebelum aku meminta jawaban atas pertanyaanku kepadamu. Nabi melihat kejujuran diwajah zaid al khail yang menangis - nangis dihadapannya, kemudian Nabi bertanya “Sebenarnya apa yang hendak kau tanyakan itu wahai sahabatku?”, maka sahabat ini menangis seraya berkata “aku hanya punya satu pertanyaan ya Rasulullah, yang mana aku takutkan pertanyaanku ini ya Rasululullah,
“kedatanganku kepadamu wahai Rasululullah,,iiiiingin sekali bertanya padamu apakah ciri-ciri orang yang dicintai Alloh SWT dan apakah ciri-ciri orang yang dibenci Alloh SWT karena aku takut dibenci Alloh SWT ya Rasulullah”
Ketika zaid bertanya akan ciri-ciri orang yang dicintai dan dibenci Alloh SWT, Rasulllah balik bertanya “kalau begitu bagaimana keadaanmu pada hari ini?,,Bagaimana Keadaanmu Pada Hari ini???... kemudian dijawab oleh Zaid al Khair dengan ketawadhuan ,dengan suara lemah lembut di hadapan kekasih Alloh, “demi Alloh ya Rasulullah,,aku cinta kebaikan,,aku cinta orang baik, aku senang,,berbuat kebaikan aku sedih ya Rasulullah, jika aku meninggalkan perkara kebaikan
Selamat! Kata Rasulullah Ini adalah ciri-ciri orang-orang yang sedang dicintai oleh Alloh SWT, Cinta kebaikan, cinta orang baik,senang beramal kebaikan sedih bila meninggalkan amal kebaikan,,
Kemudian Nabi bertanya siapa namamu? Zaid menjawab nama saya Zaid al khaiL ,,kemudian Rasulullah berkata “ Tidak! Tidak! sekarang aku ganti namamu dengan Zaid al khair ( pake R “Baik”)
Betapa syukurnya kita mendengar kisah ini,, jadi kita bisa melihat diri kita bila kita cinta kebaikan,, cinta orang baik, senang beramal kebaikan sedih bila meninggalkan kebaikan berarti kita sedang dicintai Alloh SWT, PERTAHANKANLAH!! , namun jika kelakuan kita, kita tdk suka amal baik, benci orang soleh bahkan kita malas berbuat kebaikan dan kita senang berbuat kemaksiatan berarti kita dlm keadaan dimurkai Alloh Segera kembali dan bertaubatlah..
Tiada terasa,, 2 pekan lagi, kita kan sampai pada bulan Ramadhan,,
moga kita bukan termasuk kedalam orang -orang yang tersisihkan dalam pertandingan ramadhan nanti,,,
Moga kisah ini,, istimewa juga buatmu sahabatku…
********************
Backsound : Silk Road - Kitaro * nggak pake backsound juga nggak apa,, cuma nyamain suasana aza. Coz pas nuliz,, Q dengerin instrument ini ^ - ^
@@@@@@
Di zaman Rasulullah ada seorang sahabat, sahabatnya Nabi SAW,, bernama zaid al khail (pake L “ kuda”)
Beliau menangis dipagi hari, menangis disiang hari, menangis dimalam hari, Keluarganya bertanya “ kenapa engkau sering menangis?? apa yang engkau tangisi??..” zaid al khail menjawab “aku sedang menangisi harapanku,, sudah kah harapanku dikabulkan oleh Alloh SWT. Apa harapanmu? Aku ingin mendapatkan cinta Alloh SWT,
Kemudian zaid al khail, permisi dengan seluruh anggota keluarganya, lantas beliau bergegas datang ke Madinah guna berjumpa dengan Nabi kita muhammad SAW.
Perjalanan rumah Zaid al khail menuju Rasulullah harus menempuh jarak tiga hari tiga malam menggunakan onta ,,namun karena kesemangatannya beliau hanya menggunakan waktu satu hari satu malam tanpa istirahat,, beliau terus berjalan dengan ontanya hingga sampai di Madinah.
Sesampainya di Madinah beliau langsung menjumpai Rasulullah dan beliau langsung berkata “ ya Rasulullah! ,wahai Nabi!! wahai utusan Alloh!!, ketahuilah jarak rumahku menuju rumahmu ini, harus menempuh dengan tiga hari, tiga malam, namun ku tempuh dengan satu hari satu malam,,aku buru-buru, aku cepat-cepat, karena aku takut ya Rasulullah ,aku wafat sebelum aku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku atau engkau yang kembali ke Rahmatullah sebelum aku meminta jawaban atas pertanyaanku kepadamu. Nabi melihat kejujuran diwajah zaid al khail yang menangis - nangis dihadapannya, kemudian Nabi bertanya “Sebenarnya apa yang hendak kau tanyakan itu wahai sahabatku?”, maka sahabat ini menangis seraya berkata “aku hanya punya satu pertanyaan ya Rasulullah, yang mana aku takutkan pertanyaanku ini ya Rasululullah,
“kedatanganku kepadamu wahai Rasululullah,,iiiiingin sekali bertanya padamu apakah ciri-ciri orang yang dicintai Alloh SWT dan apakah ciri-ciri orang yang dibenci Alloh SWT karena aku takut dibenci Alloh SWT ya Rasulullah”
Ketika zaid bertanya akan ciri-ciri orang yang dicintai dan dibenci Alloh SWT, Rasulllah balik bertanya “kalau begitu bagaimana keadaanmu pada hari ini?,,Bagaimana Keadaanmu Pada Hari ini???... kemudian dijawab oleh Zaid al Khair dengan ketawadhuan ,dengan suara lemah lembut di hadapan kekasih Alloh, “demi Alloh ya Rasulullah,,aku cinta kebaikan,,aku cinta orang baik, aku senang,,berbuat kebaikan aku sedih ya Rasulullah, jika aku meninggalkan perkara kebaikan
Selamat! Kata Rasulullah Ini adalah ciri-ciri orang-orang yang sedang dicintai oleh Alloh SWT, Cinta kebaikan, cinta orang baik,senang beramal kebaikan sedih bila meninggalkan amal kebaikan,,
Kemudian Nabi bertanya siapa namamu? Zaid menjawab nama saya Zaid al khaiL ,,kemudian Rasulullah berkata “ Tidak! Tidak! sekarang aku ganti namamu dengan Zaid al khair ( pake R “Baik”)
Betapa syukurnya kita mendengar kisah ini,, jadi kita bisa melihat diri kita bila kita cinta kebaikan,, cinta orang baik, senang beramal kebaikan sedih bila meninggalkan kebaikan berarti kita sedang dicintai Alloh SWT, PERTAHANKANLAH!! , namun jika kelakuan kita, kita tdk suka amal baik, benci orang soleh bahkan kita malas berbuat kebaikan dan kita senang berbuat kemaksiatan berarti kita dlm keadaan dimurkai Alloh Segera kembali dan bertaubatlah..
Tiada terasa,, 2 pekan lagi, kita kan sampai pada bulan Ramadhan,,
moga kita bukan termasuk kedalam orang -orang yang tersisihkan dalam pertandingan ramadhan nanti,,,
_ingat, ingat hutang shaum lalu... ayo segera dicicil ya. shaum
ramadhan adalah rukun islam, lebih baik dilunasi di dunia dari pada
ditagih di akherat_
Pencil
-------
ini bukan karyaku, aku hanya copy-paste, tapi aku lupa darimana dulunya. moga bermanfaat juga untukmu..
********************************************
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu sayang".
Tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. "Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.
Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
"Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu"
Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."
"Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."
Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
"Kualitas pertama"
Pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini, kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.
"Kualitas kedua"
Dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek.
Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali.
Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.
"Kualitas ketiga"
Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah.
Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.
"Kualitas keempat"
Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil.
Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu.
"Kualitas kelima"
Adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan.
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan.
Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan.
Pilihan Hidup
Kunci Poligami Menurut Anis Matta
Jakarta
- Bicara soal poligami, Anis Matta mesti didengarkan. Sebab,
pengetahuannya soal poligami tidak berhenti pada tataran teori. Sekjen
PKS ini sering terlihat 'runtang-runtung' bersama dua istrinya.Istri Anis Matta yang kedua adalah seorang wanita asal Hongaria. Cantik khas wanita Eropa Timur, berkulit putih, dan berpostur tinggi. Dalam beberapa kesempatan, Anis sering membawa serta kedua istrinya.
Keduanya dia kenalkan pada orang-orang yang mengenalnya. "Ini istri saya yang kedua," katanya gentle.
Kedua istri Anis Matta juga tampak akrab. Bila menghadiri suatu acara, mereka selalu duduk berdampingan dan terlihat sesekali bercengkrama. Satu hal lagi, kedua wanita itu tinggal serumah dengan Anis Matta.
Kepada detikcom, Kamis (7/12/2006), Anis Matta menyampaikan "kata kunci" tentang poligami. Berikut ini pokok pikirannya:
1. Gunakan pendekatan kesisteman dalam memandang masalah poligami: ini adalah pilihan-pilihan sosial yag disediakan Islam. Setiap orang boleh melakukan atau tidak melakukannya sesuai dengan kondisinya.
2. Perkawinan adalah kontrak sosial yang terjadi antara orang-orang dewasa yang berakal sehat dan mampu memilih dan mereka berhak untuk berbahagia dengan pilihan mereka.
3. Kalau ada keluarga poligami yang berbahagia dengan pilihan mereka, mengapa di alam demokrasi ini ada pihak yang mau memaksakan pilihan hidup lain kepada mereka termasuk dalam hal ini pemerintah?
4. Secara empiris tidak ada suatu data statistik yang menyatakan bahwa keluarga monogami lebih bahagia daripada keluarga poligami. Jadi siapa bilang istri tunggal lebih bahagia dari istri-istri poligami?
5. Secara sosial laki-laki yang memilih berpoligami jauh lebih bertanggung jawab dan lebih menghargai wanita daripada laki-laki yang meniduri wanita dalam kencan semalam (one night stand) lalu melupakannya.(nrl/umi)
Nasihat Seorang Ibu Tentang Celana Dalam
Judul diatas adalah tulisan yang ditulis oleh Prie Gs, beliau adalah salah satu penulis yang masuk dalam katagori pavorit saya..
didalam tulisan itu dituliskan….
Di sebuah acara televisi, saya melihat seorang yang sedang terjatuh dari ketinggian ratusan meter, tapi bukan soal nyawa yang pertama kali dia ingat, tapi celana dalam yang dipakainya. Orang yang sedang bertaruh dengan maut ini merasa bersyukur bahwa selama ini dia selalu mengamalkan nasihat ibunya tetang celana dalam. “Pakailah selalu celana dalam yang baik dan bersih. Ini penting jika suatu hari kau terpaksa harus menghadapi kejadian yang tak diinginkan,” begitu nasihat sang ibu kepadanya.
Dan ibu ini benar. Ketika para tenaga medis mulai berdatangan menolongnya, menelanjanginya untuk memeriksa kakinya yang patah dan kemudian mengoperasinya, orang ini bersykur, bahwa ia masih konsisten mematuhi nasihat sang ibu; memakai celana dalam yang bersih dan bagus. Dalam keadaan terburuk sekalipun, orang masih perlu memelihara kehormatannya. Apa jadinya jika yang ia kenakan adalah jenis celana yang sudah molor kolornya, sudah meranggas di sana sini, orang ini pasti akan menanggung derita dua kali. Sudah jatuh, kena aib pula.
Celana dalam memang sering kita remehkan cuma gara-gara letaknya di dalam. Saya pernah punya teman yang begitu ingin belajar yoga. Suatu hari dalam sebuah perjalanan rombongan, kami bertemu dengan seorang guru yoga yang berjanji akan mengajari kami, langsung jika kami sudah tiba di hotel nanti. Tak cuma sang murid yang bersemangat, guru ini pun jauh lebih bersemangat. Ia begitu bersemangat sehingga saat itu juga, begitu kami baru saja tiba di hotel, ia sudah meminta calon murid ini melepas seluruh pakaiannya, kecuali celana dalamnya.
Suasana kemudian jadi tegang sekali. Sang murid yang semula amat bersemangat belajar yoga ini jadi terpaku lama mendengar permintaan gurunya. Tapi guru ini sudah terlanjur bersemangat. Ia meminta dan terus meminta agar si murid ini segera menuruti permintaannya sementara si murid masih ngotot berdiam diri saja. Adakah minatnya tentang yoga redup tiba-tiba?
Tidak, kawan saya ini cuma kebingungan karena ia memakai celana dalam yang keliru, sudah kumal dan tua dengan bentuk yang sudah kendor sempurna. Dan celana ini sebetulnya tak lebih dari setumpuk gombal berlobang. Dan ketika ia dengan terpaksa membuka seluruh pakaiannya, celana ini akan menjadi sejarah penting dalam hidupnya karena sanggup membuat seluruh ruangan tergelak bersama-sama. Pasti pengalaman yang mustahil ia lupa.
***
Begitulah Prie Gs, menuturkan dengan bahasanya, walo ada yang saya cut. saya juga tidak tahu keakuratan dari tulisannya ini,benarkah ada dalam kehidupan nyata? kalopun tesis saya mengangkat tema ini, dan sayapun kemudian menyebarkan kuesioner, apalagi ditambah kuesioner itu harus dibubuhi nama, saya juga tidak yakin, kuesioner saya itu akan kembali lagi pada saya.
terlepas dari itu semua, tulisan ini cukup menggelitik saya, saya jadi teringat sebuah pengalaman dalam sebuah episode kehidupan saya, ketika itu saya dan teman saya menghadiri sebuah acara, ternyata di acara itu, menggunakan tempat yang mengharuskan si pengikut acara harus melepaskan sepatunya..
sejenak teman saya memandang saya, kemudian tersenyum… setelah itu dia mengeluarkan suara yang amat pelan “ada bawa kaus kaki cadangan tidak?, kaus kaki saya ujungnya berlubang. begitu ucapnya diakhiri dengan nyengir kuda, hehehehe…
Kadang-kadang, kita memang tidak pernah menghormati celana dalam atau sesuatu yang berada didalam cuma karena letaknya yang di dalam.
Kita adalah para penyuka kesempurnaan luaran sambil diam-diam suka menyimpan keburukan di kedalaman.
begitu juga halnya dengan penampilan pysik kita, kita sibuk mempercantik pysik kita, tapi terkadang menyepelehkan malah lupa dengan ruhani kita, yang padahal bila terjadi “selamat tinggal dunia yang datangnya itu secara tiba-tiba , anda bisa melanjutkan bagaimana kelanjutannya bukan?..”
apakah karena letaknya didalam juga?? walhu`alam bi showab…
****
Semoga bisa sama-sama diambil hikmahnya..
What If.....
What If Alloh could`nt take the time to bless us today...
Because we couldn`t take the time to thank Alloh yesterday?
What If Alloh decided to stop leading us tomorrow...
Because we didn`t follow Alloh Today?
What If we never saw another flower bloom...
Because we grumbled when Alloh sent the rain?
What If Alloh took away the Quran tomorrow
Because we would not read it today?
What If Alloh took away his message..
Because we Failed to listen to prophet muhammad?
What If Alloh Stopped loving and caring for us..
Because we failed to love and care for others?
What If Alloh answered our prayers..
The way we answer the adhaan?
What If Alloh met our needs..
the way we give Alloh our lives?
Astaqfirullahal`adzim...
Dear Alloh, Please forgive me..
Rembulan - Pungguk - Hidup Manusia
Begitu Indahnya rembulan di angkasa
Bercahaya menyinari Gulita
Pungguk merayu dengan penuh iba
Mengharap sang bulan jatuh ke pangkuannya
Namun bulan mendabik dada
Sering dipuji dan puja,
membuatnya merasa begitu sempurna
membuatnya merasa begitu sempurna
Pungguk terlalu menuruti rasa
Sedang bulan tak memandangnya sama sekali
Rembulan lupa asal usulnya
Sinar Cahaya kan meninggalkannya
Bila sang surya datang menjelma
Hilanglah...
yang tersisa hanya seri pucat warnanya
yang tersisa hanya seri pucat warnanya
adakah yang kan menghiraukannya?
Indah rembulan sementara
Terbuai hingga terlena,
siang telah tiba
siang telah tiba
Pungguk hilang entah kan kemana
Tersedar diri terpedaya
Begitu hidupnya manusia
Tidak kekal buat selamanya
Tiba waktunya Sakratul Maut
Di tinggal semuanya yang ada
Hanya amal yang kan di bawa
Jangan terlupa dan terleka
Nikmat dunia tak seberapa
Keangkuhan, ego membawa binasa
Bagai rembulan kesiangan
MUHASABAH......
Rabbi…
Aku malu menghadap-Mu..
Karena aku tahu..
Betapa Banyak dosa..
Yang terpoles di wajah ini…
Betapa banyak cumbu rayu semu..
Yang menyeretku kian jauh dari-Mu..
Aku malu menatap-Mu..
Walau lewat kerling dari sudut mataku..
Karena aku tahu betapa banyak nista
Yang kubiarkan lewat dipandanganku..
Menjual mimpi harapan palsu
Dan semangkin terlena aku..
Terbuai ..melupakan-Mu…
Rabbi..
Sungguh aku malu
Ntuk tega berdiri dihadapan-Mu
Karena aku tahu..
Betapa angkuh dan aniayanya aku
Merasa diri begitu besar dan sempurna..
Sehingga syukurku jatuh limbung
Diterjang nafsu dan kesombonganku..
Tapi…ya Rabbi..
Biarkan aku malu dan menyesali masa lalu..
Ntuk mulai arif menghitung-hitung...
Setiap detik yang kian membentang...
Yang mungkin masih kau sisakan untukku..
Biaskan cakrawala baru, Ntuk mengubah kelam hidupku..
Biarkan aku malu ya Rabbi..
Di penghujung malam yang hening milik-Mu
Dalam tangis dan munajatku yang paling bening
Biarkan aku tumpahkan segala ras
Diatas sajadah yang penuh air mata…
Sebuah Dialog
“AKHI, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat temyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.
Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat ter-menung.
“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja.." jawab mad'u itu.
Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.
"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?", tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.
Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya men¬dapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?", sang murabbi mencoba memberi opsi.
"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.
Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya meng¬angguk.
"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperba¬ikinya? " tanya sang murabbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.
Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diper¬hatikan. .."
"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.
Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses men¬jadi manusia terbaik pilihan Allah."
"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."
"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk aka! Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.
"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesa¬lahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."
"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"
Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.
"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.
"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!", sahut sang murabbi.
"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. "
Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidumya.Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang diharapkan dari semua pembaca...
Wallahu a'lam. -Rd.
Telor dadar
"Aahh...telor dadar lagi.." ujarnya sambil menghela nafas panjang.
Kesokan harinya...
"Aaah...lagi-lagi telor dadar..." keluhnya...
Keesokan harinya lagi..
"Aaah...lagi-lagi telor dadar lagi...!Sekali-kali sop atau gulai kek!" gerutunya.
Seorang rekannya yang kebetulan memperhatikan sikapnya berkata,
"Ya kamu ngomong dong sama yang nyiapin bekal kamu...kamu pengen ini...itu...
Memangnya siapa sih yang nyiapin bekal makan siang kamu?"
dengan tegas dia menjawab
"Yang nyiapin bekal makan siangku ya aku sendiri..."
***
Kalau mau jujur, seringkali kesulitan, kesedihan, penderitaan yang kita alami adalah karena ulah dan perbuatan kita sendiri.
Cinta dan Kasih Sayang
Mengasihi orang lain adalah langkah pertama dari perjalanan panjang masuk ke dalam diri. Perjalanan ke dalam diri memang tak mudah. Banyak orang menyerah ketika baru memulainya. Kesibukan sehari-hari sering menjadi alasan. Tapi, penyebab sebenarnya bukan itu. Persoalan sebenarnya adalah pintu hati kita yang tertutup, bahkan terkunci. Ini membuat telinga kita tak mendengar dan mata kita tak melihat. Kita tak akan pernah dapat memulai perjalanan sebelum menemukan kuncinya, yaitu ''cinta dan kasih Sayang.''
Tanpa adanya rasa cinta pada sesama, pintu-pintu gerbang menuju kesadaran yang terdalam tak akan pernah terbuka. kita belum beriman sebelum mampu menyayangi orang lain sebagaimana kita menyayangi diri kita sendiri.
Salah satu cara praktis untuk mengembangkan sikap cinta kasih adalah dengan mulai menyadari akan penderitaan. Sadar akan penderitaan -- entah itu penderitaan kita sendiri atau penderitaan orang lain -- akan membuat hati kita melunak.
Mari kita mulai dengan sebuah cerita. Di sebuah SD seorang guru bertanya pada murid-muridnya, ''Siapa yang sudah sarapan pagi ini?'' Kira-kira separo murid mengacungkan tangan. Guru itu kemudian bertanya kepada anak-anak yang tidak mengacungkan tangan, ''Mengapa kalian tidak sarapan?'' Sebagian menjawab tak sempat karena sudah terlambat. Sebagian lagi mengatakan belum merasa lapar, ataupun tak menyukai sarapan yang disajikan.
Semua memberikan jawaban senada kecuali satu anak. ''Karena,'' jawabnya, ''Sekarang bukan giliran saya.'' ''Bukan giliranmu?'' tanya sang guru. ''Apa maksudmu?'' ''Dalam keluarga kami ada empat anak,'' ujarnya, ''Tapi, ayah tak punya cukup uang untuk membeli makanan supaya tiap orang bisa sarapan setiap hari. Kami harus bergiliran dan hari ini bukan giliran saya.''
Apa yang kita rasakan ketika membaca kisah ini?
Orang-orang seperti ini ada di sekitar kita. Tapi, kadang-kadang kita tak bisa melihatnya karena mata kita tertutup. Yang sebenarnya tertutup adalah mata hati kita. Ini bisa terjadi karena hati kita dipenuhi oleh ego dan kepentingan kita sendiri. Kita terlalu banyak tertawa dan sibuk bergaul dengan orang-orang berpunya. Ini membuat hati kita tertutup.
Untuk menjalankan cinta kasih kita perlu memulai dengan mencintai diri kita, kemudian orang-orang terdekat kita. Lihatlah mereka dengan hati kita. Bukankah orang tua kita adalah orang yang rela mengorbankan hidupnya bagi kita? Bukankah pasangan kita adalah orang yang telah memilih menyerahkan hidupnya kepada kita? Bukankah anak-anak kita sangat mengagumi kita dan merindukan kebersamaan dengan kita? Bukankah pembantu kita adalah orang miskin yang mengabdikan hidupnya untuk melayani kita? Teruslah perluas dengan mengamati orang-orang di sekitar kita. Mereka semua memiliki penderitaan dan tantangan masing-masing.
Seorang bijak pernah mengatakan, ''Ketika kamu melihat dirimu tidak berbeda dari orang lain, ketika kamu merasakan apa yang mereka rasakan, lalu siapa yang bisa kamu sakiti?'' Inilah cara menumbuhkan cinta. Kita semua sama karena itu jangan pernah menilai orang dari penampilan fisiknya. Tubuh bukanlah diri kita yang sebenarnya tetapi hanya sekadar 'sangkutan' dari jiwa. Jiwa itulah esensi manusia yang sejati.
Tapi, merasakan baru merupakan permulaan cinta. Cinta yang sebenarnya haruslah diwujudkan dengan memberikan sesuatu kepada orang lain. Ukuran cinta adalah pemberian, sekecil apapun bentuknya. Ibu Theresa pernah mengatakan, ''Yang penting bukan seberapa besar yang kita perbuat, melainkan seberapa besar cinta kasih yang kita sertakan dalam perbuatan kita
---
Sumber: oleh Arvan Pradiansyah penulis buku Life is Beautiful
Jiwamu kah?
Aku akan tempuh hari-hariku bersama cinta yang utama. Aku ingin mati di jalan ini bersama kemuliaan yang tak terkira. Aku tidak akan pernah menyerah! Selamanya tidak akan menyerah, di jalan-Nya!
Hidup adalah perjuangan. Kita adalah apa yang biasa ditempakan pada diri kita. Banyak manusia yang kalah dalam hidup karena ia tidak memandang hidupnya sebagai sesuatu yang berharga, sehingga ia tidak mau memperjuangkannya. Ia tidak mau melihat hal-hal penting yang berserakan di sekelilingnya.
Karena itulah ia membiarkan hidupnya berjalan terus dan terus tanpa evaluasi.
Dia merasa tidak perlu menangisi kesalahannya. Dia berputus asa karena kesalahannya. Dia tidak merasa perlu berubah. Dia tuhankan perasaannya. Dia tidak menyadari potensi dan kekuatannya. Dia melupakan sukses yang sebenarnya. Dia ingin bahagia dengan mantera karangan pribadi.
Menyerah menjadi orang baik adalah gerbang menuju kekalahan besar. Maka, sangat penting bagi kita untuk terus bertahan. Bukankah di dalam diri kita, ada sesuatu yang harus selalu kita cintai dan perjuangkan?
Satu Batu Bata Berbuah Istana di Syurga
Disebuah negara hidup seorang yang kaya raya sehingga timbul keinginan untuk membangun masjid untuk keperluan ibadah di lingkunganya. Karena merasa cukup dalam membangun masjid, maka ia memerintahkan kepada semua tukang dan mandor pembangunan masjid untuk tidak menerima infak atau sumbangan dalam bentuk apa pun untuk pembangunan masjid tersebut.
Suatu hari datanglah seorang nenek ke pembangunan masjid tersebut."Pak, saya mau menyumbang sesuatu untuk pembangunan masjid ini" kata nenek itu. "Ngga bisa nek, kata bos kami tidak menerima sumbangan dari pihak manapun, karena semua biaya akan di tanggung oleh beliau" kata salah satu tukang di pembangunan masjid itu.
Akan tetapi nenek itu maksa dan pulanglah si nenek ke rumahnya. Dia mencari sesuatu yang bisa dia sumbangkan ke masjid. Setelah lama mencari dia hanya mempunyai uang yang hanya bisa untuk membeli satu buah batu bata.
Maka berangkatlah nenek ke toko bangunan untuk membeli batu bata dan disumbangkan ke masjid.
Sampailah nenek ke pembangunan masjid, "Pak ini saya mau menyampaikan sumbangan dari saya, sebuah batu bata."
"Ooo...ternyata cuma satu buah batu bata?" kata tukang kemarin sambil tertawa kecil.
"Klo cuma itu sih ga apa-apa", sambil menerima dan menyelipkan batu itu diantara tumpukan batu bata yang lain.
Beberapa bulan berikutnya jadilah masjid tersebut telah berdiri dan dapat dimanfaatkan oleh penduduk disekitarnya.
Suatu malam orang kaya tersebut bermimpi bahwa di surga ia telah di buatkan sebuah istana yang indah lagi megah. Terkejutlah orang kaya itu ternyata disebrang istananya ada sebuah istana yang mirip sekali dengan miliknya dan ternyata pemiliknya adalah seorang nenek yang ia kenal.
Hari berikutnya orang kaya itu bertanya kepada tukangnya."Apakah ada yang menyumbang di pembangunan masjid ini?"
"Tidak ada pak, sungguh!"
"Ada kan seorang nenek?"
"Oh...iya tapi cuma satu batu bata saja kok."
Terheran-heranlah orang kaya itu ternyata harga satu batu bata sama seperti biaya jutaan yang ia keluarkan untuk membangun masjid itu.
Sahabat.........
Sungguh dengan keikhlasan dan mengharap rido dari ALLAH kita akan mendapatkan balasan yang jauh berlipat-lipat sampai kita terheran-heran dan dari arah yang tidak di kira-kira.
Ayo rajin bersedekah! Temukan "miracle of giving" nya....
********
Cerita hikmah ini diambil dari pengajian pagi di salah satu radio di Jakarta, pembicara oleh Ustadz Boby. Semoga menjadi amal jariah buat ustadz. Amin....
Semoga bermanfaat.........
Menuju JIwa Sejati ..
Suatu ketika anak itu melihat seekor ulat bulu ...
Ulat tersebut berjalan dengan cepat, melengang meliuk-liuk..
menuju tempat daun segar makanannya.
Mata anak itu membelalak.
Ia mengulurkan tangannya dan berusaha menyentuh punggung ulat berbulu tersebut dengan jarinya.
Namun, ..
tiba-tiba ia tersentak....
Jarinya terasa gatal.
Ia mencoba sekali lagi,
dan kali ini seputar jari telunjuknya terasa tersengat.
Ulat itu melingkar di jari telunjuknya
dan dari enam belas kaki ulat tadi terasa isapan-isapan.
Anak itu tertawa keras sambil mengamati sebagian ciptaan Tuhan yang tidak pernah dibayangkannya.
Ia terpesona, takjub, dan dipenuhi rasa kagum.
Hal-hal seperti ini sering dialami seorang anak kecil,
Segala sesuatu tampak menakjubkan.
Kalau ia melihat seekor ulat yang gemuk
berubah menjadi kupu-kupu yang berwarna kuning cerah ia akan
terpukau, terpesona, dan seolah-olah terhisap.
Namun...
Kemudian terjadilah perubahan dalam hidup. Anak itu bertambah besar,
berkembang menjadi orang dewasa, dan barangkali sekarang menginjak
beberapa ulat yang dulu ia kagumi...
Inilah yang sering kita alami.
Keajaiban kupu-kupu tidak lagi menarik perhatian kita.
Segala sesuatunya tampak biasa-biasa saja.
kita mungkin sudah melihatnya ratusan kali
dan kalau itu yang terjadi, sebetulnya kita perlu waspada karena sesuatu yang hakiki mungkin telah hilang dari diri kita.
kita telah kehilangan kontak dengan bagian jiwa kita sendiri
melihat memang berbeda dengan memperhatikan
anak kecil selalu memperhatikan setiap hal yang ia temui
ini karena pikiran dan badan mereka senantiasa berada di satu tempat
dan anak kecil senantiasa berada dalam keaadaan santai , rilex,dan tidak tergesa-gesa
ini berbeda dengan kita..
pikiran dan badan kita terkadang tidak berada dalam satu tempat
kita sering lupa memperhatikan hal-hal yang sepele.
Akibatnya kita tak sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi.
namun alasan yg sebenarnya ,
anak-anak mampu menangkap keindahan karena mereka masih jernih, otentik, dan bersih.
Mereka masih sangat dekat dengan jiwa sejati kita.
Sewaktu kecil kita betul-betul merupakan makhluk spiritual.
Pada saat itu kebutuhan jasmani kita amat terbatas.
Kita hanya mengonsumsi benda-benda sebatas kebutuhan kita.
Namun,
semakin dewasa kebutuhan kita semakin banyak.
Yang lebih parah lagi,
kita telah mencampuradukkan kebutuhan dengan keinginan.
Kebutuhan kita sebetulnya terbatas,
tapi keinginan tak ada batasnya.
Bahkan, setelah sebuah keinginan terpenuhi, keinginan yang lain pun segera bermunculan.
Masalahnya, semakin kita memperturutkan keinginan,
semakin jauhlah kita dari diri kita yang asli.
Keinginan selalu mengajak kita meninggalkan diri sejati menuju ego.
Padahal ego inilah akar dari segala permasalahan yang kita hadapi.
Semakin kita mendekati ego,
semakin kita akan kehilangan kontak dengan jiwa sejati kita.
Ini biasanya ditandai dengan keadaan depresi, mudah marah, masalah lambung, dan tekanan darah tinggi.
Satu-satunya cara untuk mengatasi hal itu adalah dengan kembali mendekati jiwa sejati kita.
Inilah yang akan melahirkan ketentraman sejati.
Diri sejati sebenarnya berada sangat dekat,
bahkan lebih dekat dari tubuh kita sendiri.
Inilah sebenarnya akar dari semua keberadaan kita.
Di sini lah kita akan menemukan solusi dari setiap persoalan.
Coba perhatikan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya. Lihatlah jutaan
planet dan galaksi di alam raya. Coba perhatikan susunan tubuh kita
sendiri. kita akan merasa takjub dan kagum luar biasa.
Kalau kita menghargai setiap hal yang kita jumpai kita akan
menikmati keajaiban yang tiada habis-habisnya. kita akan senantiasa
mendengar suara Tuhan pada setiap nafas yang berhembus,
pada desir angin yang berbisik.
Kalau kita mendekati diri sejati kita, setiap momen akan terasa
segar, indah, dan menakjubkan. Lebih dari itu, perasaan-perasaan
takjub ini akan melahirkan satu hal: perasaan rindu untuk bertemu
dengan Yang Maha Indah. Kita sadar sepenuhnya bahwa tak ada sesuatu
pun yang diciptakan-Nya dengan sia-sia.
Sumber: oleh Arvan Pradiansyah penulis buku Life is Beautiful
Perbaikan diri * Selamat Tahun Baru 1431 Hijriah
Seorang pemburu mengasah pisau dan mengencangkan busur.
Seorang penulis meraut pensil.
Mereka semua harus memperbarui peralatannya.
Mereka itu adalah anda dan saya.
Ini adalah prinsip sederhana tentang produktivitas.
Tentu,
tidak akan banyak pohon yang bisa ditebang oleh kapak yang telah tumpul dan aus.
Tidak akan ada buruan yang mampu ditaklukkan oleh busur yang telah renta.
Tidak ada sebuah kata bisa tertulis dari pensil yang patah.
Maka, apa yang harus kita asah agar tetap meraih kehidupan terbaik dunia akhirat??
Saya, Anda memiliki sesosok tubuh yang pasti renta terkikis usia.
Juga kecerdasan yang segera tak banyak berarti tertinggal kemajuan Zaman.
Serta sekepal hati nurani yang mudah diburamkan oleh debu-debu dunia. sebagaimana sabda baginda Rasulullah SAW, Keimanan ibarat kain yang lusuh, oleh sebab itu perlu senantiasa di setrika.
Maka tiada yang patut kita rawat selain tubuh agar senantiasa menjadi rumah yang nyaman bagi jiwa.
Tiada yang perlu kita asah selain pikiran dan ketrampilan agar selalu dapat digunakan untuk membuka pintu kemakmuran. Serta, tiada yang harus kita pertajam selain hati nurani yang rindu pada fitrahnya..
SEMOGA MOMENTUM TAHUN BARU HIJRIAH INI, MERUPAKAN AWAL PERUBAHAN MENJADI PRIBADI-PRIBADI YANG SENANTIASA MENGADAKAN PERBAIKAN UNTUK PERUBAHAN YANG LEBIH BAIK DAN KETAKWAAN KITA BERTAMBAH….AMIIIN..
dan tentunya..
TIDAK ADA PERUBAHAN TANPA ACTION!!!
TIDAK ADA PERUBAHAN TANPA ACTION!!!
Sumber : milis indonesia-community dengan editan
Sebuah Renungan (Hadist Qudsi diriwayatkan oleh Ibnu Husain)
Semoga bisa menjadikan perenungan untuk kehidupan kita
******************************
“Demi Kemuliaan dan kebesaran-KU, juga demi kemurahan dan ketinggian kedudukan-KU di atas Arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang berharap kepada selain Aku dengan kekecewaan. Aku akan pakaikan kepada-Nya pakaian kehinaan dimata manusia. Aku singkirkan ia dari dekat-KU, lalu Aku putuskan hubungan-Ku dengannya.
Mengapa ia berharap kepada selain Aku ketika dirinya sedang dalam kesulitan? padahal sesungguhnya kesulitan itu berada ditangan-Ku dan Aku yang dapat menyingkirkannya. Mengapa dia berharap kepada selain Aku dengan mengetuk pintu-pintu lain meski pintu itu tertutup? padahal, hanya pintu-KU yang terbuka bagi siapapun yang berdoa memohon pertolongan dari-KU
Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya, lalu Aku kecewakan? siapakah yang pernah mengharapkan (ampunan) Aku. karena dosa-dosanya yang besar, lalu Aku putuskan harapannya? Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-KU, lalu tidak Aku bukakan?
Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antara Aku dan harapan seluruh makhluk-Ku, Akan tetapi, mengapa mereka malah bersandar kepada selain Aku? AKu telah menyediakan harapan semua hamba-KU, tetapi mengapa mereka tidak puas dengan perlindungan-Ku?
Dan Aku pun telah memenuhi langit-KU dengan para malaikat yang tidak pernah jemu bertasbih kepada-KU, lalu aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara AKu dan hamba-hamba-KU. Akan tetapi, mengapa mereka tidak percaya kepada firman-firman-KU?
Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa pun yang ditimpa bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya selain Aku? Akan tetapi , mengapa Aku melihat dia, dengan segala harapannya itu, selalu berpaling dari-KU? Mengapakah ia sampai tertipu oleh selain Aku?
Aku telah memberikan kepadanya dengan segala kemudahan-KU apa-apa yang tidak sampai harus ia minta. Ketika semua itu Aku cabut kembali darinya, lalu mengapa ia tidak memintanya lagi kepada-KU untuk segera mengembalikannya, tetapi malah meminta pertolongan kepada selain AKu?
Apakah Aku ini bakhil sehingga dianggap bakhil oleh hamba-KU? Tidakkah Dunia dan Akhirat itu semuanya milik-Ku? Tidakkah semua rahmat dan karunia itu berada di tangan-Ku? Tidakkah dermawan dan kemurahan itu sifat-KU? Tidakkah hanya Aku tempat bermuaranya semua harapan? Dengan demikian, Siapakah yang dapat memutuskannya dari-KU?
Apa pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi “Mintalah kepada-Ku” Aku pun lalu memberikan kepada masing-masing orang, pikiran apa yang terpikir pada semuanya?
dan, semua yang Aku berikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku, meskipun sebesar debu. Bagaimana mungkin kekayaan-Ku yang begitu sempurna akan berkurang, sedangkan Aku mengawasinya?
Sungguh, alangkah celakanya orang yang berputus asa dari rahmat-KU. Alangkah kecewanya orang yang berbuat maksiat kepada-Ku dan tidak memerhatikan Aku dan tetap melakukan perbuatan-perbuatan haram seraya tidak malu kepada-Ku
**********
Saudaraku...
dengan segala kemurahan-Nya, Alloh memberikan jaminan pertolongan bagi siapa saja yang memohon pertolongan kepada-Nya.
Alloh tidak pernah mengecewakan hamba-Nya, Dia selalu memenuhi harapan Hamba-Nya dan membukakan pintu untuk hamba-Nya.
oleh karena itu, yakinlah bahwa Alloh senatiasa hadir dalam kehidupan kita..
jika kita mendekat dengan berjalan, Dia akan menyambut kita dengan berlari..
mohonlah pertolongan setiap kali ada permasalahan
sungguh..Alloh Maha pengasih dan penyayang terhadap hamba-Nya, Dia tidak akan bosan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya
DOAKU..
dari malas, pengecut, bakhil
dan aku berlindung kepadaMU ya Alloh dari kufur, kefakiran, kefasikan
dan aku berlindung kepadaMu ya Alloh dari tuli, bisu, gila dan segala macam penyakit
ya Alloh,,
aku berlindung kepadaMU dari kesusahan dan kesedihan
dari lemah kemauan dan dari malas, dari sikap pengecut dan bakhil dan dari terlilit hutang dan kedzaliman manusia.
ya Alloh!!
wahai yang Maha meluaskan rizki bagi siapa yang dikehendaki tanpa hisab,
luaskan lah dan banyakkanlah rizki untukku dari setiap penjuru dan dari perbendaharaan rizki-MU tanpa pemberian dari makhluk-MU dengan karunia-MU dan kemulian-MU
Maha suci Dzat yang menghilangkan kesusahan orang-orang yang terlilit hutang,
Maha suci Dzat yang menggembirakan orang-orang yang bersedih,
Maha suci Dzat yang menciptakan segala sesuatu diantara kaaf dan nuun,
Maha suci Dzat yang apabila menghendaki sesuatu dengan berfirman jadilah!! maka jadi
wahai Dzat yang memberikan kebahagiaan,,
berikanlah kebahagiann kepadaku,
hilangkan lah kesedihanku,
kesusahanku,
keresahanku dengan cepat dengan rahmat-MU
ya Alloh!!,
wahai Dzat yang Maha kaya,
wahai yang Maha memberikan kekayaan
berikanlah kekayaan kepadaku yang berkesinambungan dan berkah
wahai yang Maha memberikan kemuliaan,,
berikanlah kemuliaan kepadaku dengan kemulian kekuasaan-Mu
wahai Dzat yg mempermudah segala urusan,,
berilah kemudahan padaku atas semua urusan dunia dan agamaku
kabulkanlah ya Alloh , Dzat yang paling baik di harapkan..
Ya Alloh,,
ampunilah aku,
rahmati aku
berilah aku petunjuk dan rizki,
sehatkanlah aku dan maafkanlah aku, ya Alloh,
sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan rizki,
kesempitan dunia,
kesempitan pada hari akhirat
dan segala puji bagimu ya Alloh, tuhan semesta alam, amiin
Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat
Buat Para Suami baca ya!!... Istri dan calon istri juga boleh :D
*****
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit, istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa Kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda
istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun dengan sabar. Dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu Hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka, sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yang sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak....... ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" .
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku, itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..
Sejenak kerongkongannya tersekat,... Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti Ini.
Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat
oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit."
Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno .. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salahsatu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yg
sudahtidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru
DisitulahPak Suyatno bercerita.
"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, Tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran,perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4orang anak yg lucu2..
Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta Kita bersama..Dan itu merupakan ujian bagi saya, Apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya Apalagi dia sakit,,,"
*****
Konon katanya ini kisah nyata, walhu `Alam bi showab...
Bibit yang mana Kita
*Ilustrasi.....
terdapat 2 buah bibit tanaman yang terhampar ditanah. Bibit yang pertama berkata,“Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku sangat dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, serta kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”
Dan bibit yang pertama inipun tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam. “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”
Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan memakannya segera.
***
memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. ketakutan pada bayangan. Kita kerap terbuai dengan beribu-ribu alasan-alasan yang seakan alasan-alasan itu tiada perna habis dalam stok kita untuk ragu melangkah, untuk mengkerdilkan kita..
Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.
tiap pilihan selalu ada resiko yang mengiringinya. Namun jangan sampai ketakutan, keraguan dan kebimbangan, menghentikan langkah kita.
Banyak orang tidak berani melangkah karena mereka mempunyai keyakinan-keyakinan yang salah, yang dibentuk oleh dirinya dan lingkungannya selama ini. mereka tidak yakin bahwa mereka bisa melompat lebih tinggi dari apa yang mereka pikirkan.
(resensi diedit seperlunya)
Husni Jamaludin dalam karyanya "SAAT SAAT TERAKHIR MUHAMMAD RASULULLAH"
demam itu demam yang pertama demam yang terakhir
bagi rasul terakhir
jam itu adalah jam-jam penghabisan
bagi Utusan Penghabisan
dalam demam yang mencengkram
betapa sabar kau terbaring di selembar tikar
dalam jam-jam yang mencekam
betapa dalam lautan pasrahmu
ada kulihat
matamu berisyarat
adakah gerangan
yang ingin kau pesankan
dalam jam-jam penghabisan
wahai Nabi Pilihan
maka kuhampirkan telingaku yang kanan
dimulutmu yang suci
maka kudengar ucapmu pelan:
dibawah tikar
ada sembilan dinar
tolong....tolong sedekahkan
sesegera mungkin
kepada fakir miskin
mengapa yang sembilan dinar
mengapa itu benar
mengapa..
mengapa..itu yang membuatmu gelisah
ya Rasulullah
sebab kemana nanti
kusembunyikan wajahku
dihadirat Ilahi
bila aku menghadap dan Dia tahu
aku meninggalkan bumi
dengan memiliki
duit
biar sedikit
biar cuma sembilan dinar
ke bumi aku diutus
memberikan arah ke jalan yang lurus
Tugasku...
tugasku tak hanya menyampaikan pesan
tugasku adalah juga sebagai teladan
bagi segala orang yang mencintai Tuhan
lebih dari segala dinar
lebih dari segala yang lain
miskin aku datang
biarlah miskin aku pulang
bersih aku lahir
biarlah bersih hingga detik terakhir
sembilan dinar
pelan-pelan kuambil dari bawah tikar
bergegas aku keluar
dari kamarmu yang sempit
kamarmu yang amat sederhana
bergegas aku melangkah ke lorong-lorong sempit
diatas jalan-jalan pasir tanah Madinah
mensedekahkan
dinar yang sembilan
kepada orang-orang
yang sangat kau sayang
orang-orang miskin seperti kau
orang-orang yatim seperti kau
dan demam itu demam yang pertama demam yang terakhir
bagi Rasul terakhir
dan jam itu adalah detik penghabisan
bagi Utusan Penghabisan
Muhammad
kau tak di situ lagi di tubuh itu
tinggal senyum di bibirmu
tinggal teduh di wajahmu
Rasulullah
miskin kau datang miskin kau pulang
bersih kau lahir bersih hingga detik terakhir
*****
Moga bisa mengingatkan kita kembali dan memberikan perenungan untuk kita
Langganan:
Postingan
(
Atom
)











